Jakarta,-Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menargetkan Indonesia mampu memproduksi 15 antigen vaksin secara mandiri sebelum 2029. Dengan kata lain, target tersebut diharapkan tercapai sebelum masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berakhir.
Menkes mengungkapkan Indonesia saat ini menggunakan 15 antigen untuk memproduksi 13 jenis vaksin. Namun baru empat antigen yang bisa dikembangkan secara mandiri, sedangkan sisanya masih bergantung pada bahan baku impor.
“Sebelum selesai masa jabatan, saya ingin produsen vaksin bisa memproduksi 15 antigen ini,” ujarnya, Rabu, 8 Juli 2026. Menurut Menkes, selama ini sebagian besar produksi vaksin dalam negeri masih sebatas proses pengemasan (fill and finish).
Sedangkan bahan baku vaksin masih diimpor dari luar negeri, untuk kemudian dikemas menjadi produk jadi di Indonesia. “Obatnya diimpor dari Tiongkok dan India, baru setelah itu dituangkan ke dalam botol,” ujarnya.
Menkes menekankan Indonesia harus meningkatkan kemampuan riset dan pengembangan agar mampu menghasilkan antigen secara mandiri. Negara ini juga perlu menguasai teknologi produksi vaksin modern, termasuk viral vector dan mRNA.
Meski begitu, Menkes merasa optimistis pengembangan vaksin tidak harus memakan waktu hingga satu dekade. Menurut dia, pengalaman saat pandemi Covid-19 membuktikan inovasi vaksin dapat dilakukan dalam waktu jauh lebih singkat.
“Sewaktu Covid-19 kita bisa melakukannya dalam 18 hingga 20 bulan,” ucapnya. “Jadi, kenapa saya selalu menerima jawaban kita butuh lima sampai 10 tahun?”
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menggandeng sejumlah pihak mempercepat riset, pengembangan, serta transfer teknologi produksi vaksin. Di antaranya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT Bio Farma, dan lainnya.
Menurut Menkes, hasil riset harus menjadi produk bermanfaat yang mampu menyelamatkan masyarakat, bukan sekadar publikasi ilmiah. “Jurnal dan riset akan lebih bermanfaat jika menjadi produk yang bisa menyelamatkan orang,” ujarnya.

