Jakarta,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung panjang. Kondisi tersebut juga ditandai dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata selama tiga dekade terakhir.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, mengungkapkan beberapa indikator musim kemarau yang terjadi pada tahun ini. “Beberapa indikatornya meliputi waktu awal musim, durasi musim, dan jumlah curah hujan selama periode kemarau,” kata Fachri, Jumat, 17 April 2026.
Fachri menjelaskan bahwa sekitar lima puluh enam persen wilayah zona musim akan mengalami periode kemarau yang sangat panjang. Durasi musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih lama jika kita bandingkan dengan data rata-rata normal.
Fachri menekankan bahwa kondisi kekeringan pada tahun ini akan melanda sebagian besar wilayah di bagian selatan Indonesia. Menurutnya, peristiwa durasi musim kemarau yang panjang tersebut disebabkan oleh bertambahnya jumlah dasarian jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Perhitungan kami menunjukkan adanya penambahan sekitar dua puluh hari lebih lama untuk durasi musim kemarau pada tahun ini,” katanya. Selain itu, Fachri menyampaikan bahwa kemarau kali ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino kategori lemah hingga moderat.
Dia berpendapat bahwa pemerintah dan masyarakat juga harus ikut bertanggung jawab karena ancaman gagal panen melanda lumbung pangan. “Kombinasi antara musim kemarau dan fenomena El Nino akan mengakibatkan curah hujan di wilayah Indonesia menjadi sangat berkurang,” ucapnya.
Dirinya juga memaparkan bahwa puncak kekeringan diprediksi akan terjadi secara merata pada bulan Agustus mendatang nanti. Menurutnya, dampak atau implikasi dari kondisi tersebut adalah potensi kebakaran hutan yang harus diwaspadai oleh semua pihak. (pro3)

