Medan,-Kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan pelajar di Berastagi, Kabupaten Karo, berbuntut sanksi tegas. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan makanan tersebut disanksi berat, sementara kepala SPPG tidak hanya dicopot dari jabatannya, tetapi juga diusulkan mendapat pemecatan dengan tidak hormat (PTDH) sebagai aparatur sipil negara (ASN).
Hal itu disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, usai menjenguk salah seorang korban keracunan MBG yang masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan, Minggu (16/8/2026).
Sudaryono mengatakan, dapur SPPG terkait telah disuspensi dengan status berat. Sementara terhadap kepala SPPG, BGN akan mengusulkan sanksi pemecatan dengan tidak hormat melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN).
“Sanksinya yang pertama, dapurnya disuspen berat. Kemudian kepala SPPG-nya yang disanksi. Yang bisa saya berikan bukan hanya dicopot, tapi saya ajukan pemecatan dengan tidak hormat melalui badan kepegawaian negara, status ASN-nya,” tegas Sudaryono.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kepala SPPG Karo Berastagi Sempajaya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, diketahui bernama Eky Faisal Zendrato.
Saat ini, SPPG tersebut masih dalam proses investigasi oleh tim gabungan untuk mengungkap penyebab keracunan massal yang terjadi di SMA Negeri 1 Berastagi pada Kamis (13/8/2026).
Sudaryono menegaskan, kasus tersebut menjadi pelajaran penting bagi seluruh pengelola SPPG di Indonesia agar lebih berhati-hati dalam menjalankan program MBG. Menurutnya, distribusi makanan bergizi menyangkut keselamatan dan nyawa manusia sehingga tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
“Ini juga peringatan bagi yang lain, harus ekstra hati-hati dan kerja dengan sebaik-baiknya. Kalau enggak bisa, kau mundur. Kalau merasa enggak mampu, mundur. Jangan nyawa orang jadi permainan,” ujarnya.
Ia juga meminta setiap petugas yang merasa tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya untuk tidak memaksakan diri.
“Kalau enggak mampu jadi kepala dapur, kalau enggak mampu jadi chef, kalau enggak mampu jadi petugas di situ, kau mundur saja. Karena nyawa seseorang enggak bisa dipertaruhkan begini,” katanya.
Sementara itu, Sudaryono menyebut kondisi pelajar yang masih menjalani perawatan di RSU Haji Medan berangsur membaik. Namun, korban masih berada dalam pemantauan intensif tim medis dan menjalani proses pemulihan.
“Sudah di sini dua hari, ini hari yang ketiga. Menurut laporan tadi sudah membaik. Treatment-nya adalah kondisi perut dipuasakan, kemudian karena ada bakteri diberikan antibiotik dan pain killer atau obat antinyeri,” jelasnya.
Ia mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk membantu proses pemulihan dan memastikan kondisi korban kembali stabil.
Sudaryono berharap kondisi korban dapat kembali normal dalam satu hingga dua hari ke depan.
Dalam kesempatan itu, Sudaryono juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution yang telah memfasilitasi pengobatan korban, termasuk memastikan biaya perawatan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

