Jakarta,-Ramai di media sosial istilah ‘awan kontainer’, yang dikaitkan dengan cuaca ekstrem dan memicu gangguan kesehatan. Adapun gangguan kesehatan tersebut yakni, gatal-gatal pada kulit, mata perih, hingga munculnya busa pada air hujan yang ditampung warga.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan gangguan kesehatan bukan karena disebabkan jenis awan tertentu. Kondisi tersebut terjadi karena fenomena hujan asam.
“Hujan asam terjadi akibat gas-gas polutan di udara yang berperan sebagai inti kondensasi, kemudian larut dalam air hujan. Apalagi di wilayah dengan tingkat polusi udara tinggi, potensi terjadinya hujan asam memang lebih besar,”kata Sonni, dikutip dari laman IPB University, Kamis 29 Januari 2026.
Lalu bagaimana dengan anggapan awan kaku atau tidak bergerak, menurutnya kondisi tersebut terjadi karena hanya mengandalkan pengamatan visual yang terbatas. Ia menjelaskan awan secara alami selalu bergerak dan berubah bentuk mengikuti dinamika atmosfer.
“Ketika awan disebut tidak bergerak atau tidak berubah bentuk, itu biasanya hanya berdasarkan pengamatan mata telanjang sesaat. Pengamatan visual yang sangat terbatas dalam rentang waktu singkat, padahal secara fisik awan terus mengalami perubahan,” ujarnya menerangkan.
Sonni juga menanggapi klaim yang mengaitkan fenomena tersebut dengan jejak pesawat di langit. Menurut Sonni, garis-garis lurus yang sering terlihat sebenarnya merupakan jejak kondensasi pesawat atau contrail dan bersifat tidak permanen.
“Itu adalah uap air hasil pembakaran bahan bakar pesawat. Ketika berada di lapisan udara yang dingin, uap air tersebut mendingin dan mengondensasi, sehingga tampak sebagai garis lurus di langit,” ucapnya.
“Jika diamati dengan cermat, dalam beberapa menit bentuknya akan menyebar dan berubah menjadi tidak teratur. Ini menunjukkan adanya kekeliruan pengamatan yang bisa memicu kesimpulan yang salah,”katanya.
Sonni meluruskan istilah ‘awan kontainer, yang sebenarnya tidak dikenal dalam ilmu meteorologi. Istilah ‘awan kontainer’ merupakan kesalahpahaman dalam memahami fenomena atmosfer, keliru memahami proses terbentuknya hujan, khususnya pada tahap awal presipitasi.
“Kesimpulan saya, ada kekeliruan dalam memahami proses presipitasi. Terutama pada tahap pengintian atau pembentukan inti kondensasi,” ujarnya
Ia meminta agar masyarakat lebih kritis dalam menyikapi informasi cuaca yang viral di media sosial. Sonni meminta masyarakat tidak mudah mengaitkan fenomena atmosfer dengan istilah atau klaim yang tidak memiliki dasar ilmiah.

