Medan,-Nasib tragis menimpa Asmi Anggraini (4), bocah perempuan yang menjadi korban peluru nyasar saat tawuran antarkelompok remaja di kawasan Belawan, Medan. Hingga kini, Asmi masih terbaring lemah di RSUD Pirngadi Medan dengan proyektil peluru bersarang di bagian matanya.
Peristiwa memilukan itu terjadi pada Senin (5/1/2025) sekitar pukul 19.00 WIB di Jalan Yos Sudarso, tepat di depan Kantor Pos Belawan, sebelum Rumah Sakit PHC. Saat kejadian, Asmi bersama ibunya, Romanda, tengah menaiki becak motor untuk menjemput sang ayah.
“Waktu itu kami mau menjemput suami saya. Pas sampai di depan Kantor Pos, ternyata ada tawuran antarkampung,” ujar Romanda, Selasa (6/1/2025).
Menurut Romanda, kelompok remaja yang terlibat tawuran membawa senjata tajam, tameng, hingga senapan angin. Situasi memanas membuat becak yang mereka tumpangi terhenti di tengah jalan.
“Saat becak kami mau lewat, mereka saling serang. Tiba-tiba entah dari mana peluru datang. Anak saya langsung teriak ‘Mak!’ Ternyata kepalanya sudah penuh darah,” tuturnya dengan suara bergetar.
Awalnya, Romanda tidak mengetahui penyebab luka pada anaknya. Ia hanya bisa mendekap erat Asmi yang terus menangis kesakitan. Kepanikan bertambah karena akses menuju RS PHC Belawan saat itu diblokir akibat tawuran.
“Kami sempat dibawa ke klinik di belakang PHC, tapi dokternya tidak berani menangani karena lukanya dekat mata,” jelas Romanda.
Setelah itu, Asmi dibawa ke RS PHC Belawan sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Pirngadi Medan. Di sanalah diketahui bahwa mata Asmi tertembus peluru senapan angin.
“Lukanya tepat di pelopak mata, hampir kena otak. Sampai sekarang pelurunya masih bersarang,” ungkap Romanda sambil menahan tangis.
Ia mengaku tak tega melihat kondisi anak bungsunya, terlebih setiap kali menangis, darah masih keluar bersama air mata.
Sementara itu, Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUD Pirngadi Medan, Gibson Girsang, menyampaikan bahwa korban telah menjalani CT scan dan rontgen. Hasil pemeriksaan memastikan adanya proyektil peluru di dalam mata korban.
“Sudah dilakukan CT scan dan rontgen. Memang terlihat ada peluru di bagian dalam mata,” kata Gibson.
Namun, penanganan lanjutan terkendala keterbatasan dokter spesialis bedah mata. RSUD Pirngadi belum memiliki dokter bedah mata, begitu pula RSUP Adam Malik karena dokter spesialisnya baru saja pensiun.
“Kami sudah berkoordinasi dengan RS USU. Dokternya ada, tapi kamar sempat penuh. Saat ini masih kami upayakan agar pasien segera bisa ditangani,” jelasnya.
Gibson menambahkan, kondisi umum Asmi relatif stabil, meski masih merasakan nyeri hebat di bagian mata. Pihak rumah sakit berharap proses rujukan dapat segera terealisasi agar operasi dapat dilakukan secepatnya.

