Jakarta,-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah hingga penutupan perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,18 persen atau 32 poin ke level Rp17.414 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, terutama setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Upaya negosiasi perdamaian yang sebelumnya diharapkan meredakan konflik dilaporkan belum mencapai kesepakatan.
Amerika Serikat disebut menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan sebelumnya. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan kegagalan negosiasi tersebut mematahkan harapan pelaku pasar terhadap stabilitas kawasan dalam waktu dekat.
“Pernyataan AS mematahkan harapan akan meredanya ketegangan di kawasan Teluk dalam waktu dekat. Sebaliknya, kondisi itu menyebabkan tensi geopolitik kembali meningkat,” kata Ibrahim Assuaibi, Senin, 11 Mei 2026.
Tanggapan Iran yang disampaikan melalui mediator Pakistan, menuntut pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz. Adanya jaminan keamanan dan pengakuan hak Iran untuk melanjutkan beberapa aktivitas nuklir.
“Para innvestor tetap fokus pada Selat Hormuz, yang masih tertutup sejak awal konflik,” ucap Ibrahim. Ketegangan geopolitik kembali terjadi jelang kunjungan Trump ke Tiongkok yang dijadwalkan akhir pekan ini.
Trump disebut akan bertemu Presiden Tiongkok, Xi Jinping di Beijing. Kedua pemimpin kemungkinan akan membicarakan masalah perdagangan, Taiwan dan konflik AS dengan Iran.
Dari sisi ekonomi, perhatian pasar pekan ini akan tertuju pada rilis data inflasi AS untuk bulan April 2026. Termasuk data indeks harga prudesen dan indeks harga konsumen serta pernyataan sejumlah pejabat the Fed.
Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati data Survei Konsumen bulan April 2026 yang dilakukan Bank Indonesia. Keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi nasional tetap terjaga di zona optimis.
“Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026. IKK berada di level 123, meningkat tipis dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9,” ucap Ibrahim.
IKK ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 116,5. IKE bulan April juga meningkat dibandingkan bulan Maret yang sebesar 115,4.
“Kenaikan IKE menunjukkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, mengalami perbaikan. Termasuk ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli,” ucap Ibrahim.

