Washington,-NASA menunjuk 10 ilmuwan untuk bergabung dalam tim sains permukaan Bulan pada program Artemis. Mereka akan membantu menyusun rencana penelitian oleh para astronaut saat misi pendaratan di wilayah Kutub Selatan Bulan.
Melalui tim ini, para ilmuwan akan berperan dalam mendukung aktivitas ilmiah di permukaan Bulan. Seperti pemasangan instrumen penelitian, melakukan pengamatan penting di lokasi pendaratan, hingga pengumpulan sampel batuan Bulan.
Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman manusia tentang kondisi geologi dan lingkungan Bulan. “Selamat kepada para ilmuwan yang terpilih untuk bergabung dalam tim ilmuwan permukaan bulan Artemis,” Deputy Associate Administrator for Exploration di Science Mission Directorate NASA, Joel Kearns.
Ia mengatakan, para ilmuwan terpilih akan membawa keahlian penting untuk mencapai tujuan ilmiah misi. Menurut Kearns, eksplorasi permukaan Bulan menjadi langkah besar menuju operasi manusia secara berkelanjutan sekaligus persiapan eksplorasi Mars.
Kesepuluh ilmuwan yang dipilih berasal dari berbagai lembaga penelitian dan universitas, di antaranya:
Kristen Bennett, Northern Arizona University di Flagstaff
- Aleksandra Gawronska, The Catholic University of America di Washington
- Timothy Glotch, State University of New York, Stony Brook
- Paul Hayne, University of Colorado, Boulder
- Erica Jawin, Smithsonian Institution di Washington
- Jeannette Luna, Tennessee Technological University di Cookeville
- Sabrina Martinez, NASA’s Johnson Space Center di Houston
- Jamie Molaro, Planetary Science Institute di Tucson, Arizona
- Hanna Sizemore, Planetary Science Institute
- Catherine Weitz, Planetary Science Institute
Tim sains Artemis akan dipimpin Noah Petro dari NASA Goddard Space Flight Center dan Padi Boyd dari NASA Headquarters. Mereka juga akan mendukung tim geologi Artemis yang dipimpin Brett Denevi dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory.
Dalam misi Artemis mendatang, astronaut direncanakan mendarat di wilayah Kutub Selatan Bulan yang memiliki kondisi ekstrem. Termasuk kawah gelap yang diduga mengandung es dan puncak gunung yang hampir selalu mendapat cahaya Matahari.
Selain itu, metode penelitian yang dikembangkan dalam misi pendaratan Artemis pertama akan menjadi dasar bagi misi-misi berikutnya. Mereka akan terlibat dalam perencanaan sebelum misi, operasi ilmiah selama misi berlangsung, hingga penyusunan laporan setelah misi selesai.

