Jakarta,- Presiden Prabowo Subianto menyoroti penyebaran hoaks dan manipulasi informasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi mengganggu stabilitas negara. Apalagi hal tersebut dapat dilakukan hanya oleh segelintir pihak dengan cara memanfaatkan teknologi.
“Sekarang dengan teknologi informatika digital, satu orang bisa memiliki 1.000 akun,” ujarnya di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 8 April 2026. “Bahkan dengan membeli alat-alat yang tidak terlalu mahal, dia bisa memperbanyak dari yang 1.000 ini.”
Menurut Presiden, kondisi tersebut membuat sekelompok kecil mampu menciptakan kegaduhan di ruang publik. Fenomena tersebut dikenal sebagai echo chamber yang dapat memperkuat persepsi tertentu di masyarakat.
“Mungkin dengan 100 atau 1.000 orang sudah bisa bikin heboh,” ujarnya. Menurut Presiden, hal ini ada dalam pelajaran-pelajaran intelijen sebagai cara untuk merusak negara lain.
Kepala Negara juga menilai pola ancaman terhadap negara kini mengalami perubahan signifikan. Yaitu tidak lagi didominasi kekuatan militer, tetapi melalui manipulasi informasi di ruang digital.
“Dulu perang dengan mengirim pasukan atau bom, sekarang tidak perlu,” ucapnya. “Kini mungkin dengan permainan media sosial, fitnah, atau hoaks.
Presiden kemudian mencontohkan teknologi kecerdasan buatan kini mampu memanipulasi suara dan konten secara meyakinkan. Menurut dia, hal tersebut berpotensi menyesatkan publik jika tidak diantisipasi dengan baik.
“AI bisa membuat seorang bicara yang dia tidak pernah bicara,” ucapnya. Bahkan pernah Kepala Negara melihat video di YouTube yang menampilkan dirinya sedang bernyanyi.
“Saya tidak bisa menyanyi karena suara saya jelek, tetapi di YouTube suara saya jadi bagus banget,” katanya. Bahkan, lanjut Presiden, dirinya menemukan berpidato dalam bahasa Mandarin atau Arab.
Meski begitu, Presiden menegaskan kritik tetap menjadi bagian penting dalam sistem demokrasi. Namun, itu harus disampaikan secara bertanggung jawab dan tidak berbasis fitnah.
“Nanti kami terima koreksi-koreksi itu,” kata Kepala Negara. “Kalau difitnah atau dihujat, anggaplah itu sebagai peringatan supaya tetap waspada.”
Presiden lalu mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan teknologi informasi. Kepala Negara juga menekankan pentingnya menjaga persatuan serta berpegang pada prinsip konstitusi dalam menghadapi tantangan era digital.

