Jakarta,-Kekuatan lini tengah Belanda untuk Piala Dunia 2026 dinilai masih belum meyakinkan. Sebab performa para gelandang inti di level klub tidak konsisten, dengan Tijjani Reijnders yang lebih sering jadi pengganti di Manchester City.
Pengamat sepak bola Belanda Valentijn Driessen menyoroti bahwa banyak pemain inti tidak selalu bermain di klub. Menurutnya akan sangat sulit bagi Belanda karena tak satu pun gelandang yang benar-benar menjadi andalan utama di klubnya.
Selain Reijnders, Ronald Koeman juga rutin memanggil Frenkie de Jong, Ryan Gravenberch, Xavi Simons, Jerdy Schouten, dan Teun Koopmeiners. Namun performa mereka musim ini dinilai belum sepenuhnya konsisten.
Opsi pelapis yang dimiliki Belanda didominasi pemain muda yang minim pengalaman di turnamen besar. Hal itu membuat De Oranje berada dalam posisi kurang ideal untuk bersaing.
“Coba hitung berapa pemain yang benar-benar jadi pilihan pertama di klubnya. Dengan skuad seperti itu, Piala Dunia akan menjadi tantangan yang sangat berat,” kata Driessen dalam keterangan yang diterima RRI, Selasa 21 April 2026.
Jika dibandingkan dengan kekuatan lini tengah negara lain seperti Portugal dan Prancis, kualitas Belanda dinilai masih tertinggal. Portugal memiliki kombinasi Vitinha, Joao Neves, dan Bruno Fernandes yang tampil konsisten di level tertinggi, sementara Prancis bisa menyusun tiga kombinasi lini tengah yang lebih kuat.
Belanda tampil impresif di babak kualifikasi dengan enam kemenangan dan dua imbang di Grup G bersama Polandia, Finlandia, Malta, dan Lituania. Namun capaian tersebut dinilai belum bisa menjadi tolok ukur kekuatan sebenarnya karena lawan yang dihadapi kurang kompetitif.
Di fase grup putaran final nanti, Belanda akan menghadapi lawan dengan kualitas lebih merata seperti Jepang, Swedia, dan Tunisia di Grup C. Persaingan yang semakin ketat, performa lini tengah Belanda akan menjadi kunci utama menentukan langkah mereka di Piala Dunia 2026.

