Jakarta,- Gelombang panas dengan rekor suhu panas tertinggi hingga 40-50 derajat celcius, menyelimuti negara-negara di Asia Selatan dan Tenggara. Gelombang panas tersebut, membuat beberapa negara mengubah sementara sistem pembelajaran anak sekolah, seperti, Filipina, India, dan Kamboja.
Mengutip laman Skynews, para siswa di Filipina dan India terpaksa diminta untuk tinggal di rumah. Para pelajar diminta melakukan proses belajar mengajar jarak jauh demi mengurangi risiko kesehatan serius.
Sementara, sekolah-sekolah di Kamboja telah mengurangi jam operasionalnya. Menurut ahli meteorologi Kamboja, suhu terpanas terjadi dalam 170 tahun terakhir hingga mencapai 43C (109F).
Lalu, suhu panas di Bangkok, Thailand, telah mencapai 40C (104F). Berdasarkan indeks panas suhu telah mencapai 50C (122F) karena panas terperangkap di antara massa bangunan.
“Peningkatan panas menempatkan anak-anak pada risiko banyak penyakit yang berhubungan dengan panas. Dan, bahkan bisa menyebabkan kematian,” kata juru bicara UNICEF, Minggu (5/4/2024).
UNICEF menyebutkan, sekitar 243 juta anak terpapar gelombang panas. Bahkan sedikitnya, 30 orang di Thailand dilaporkan meninggal karena serangan panas dalam sebulan terakhir.
Kemudian beberapa kota di Myanmar masuk dalam daftar tempat terpanas secara global, dengan suhu mencapai 48,2C (118F). Direktur Earth Observatory di Singapura, Benjamin Horton, mengatakan ada tiga faktor penyebab gelombang panas.
Faktor pertama, yakni fenomena iklim alami yang dikenal sebagai El Nino, peningkatan suhu global. Kemudian, perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

