Jakarta ,-Kementerian Kesehatan tetap memantau dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia. Pemantauan mencakup kualitas udara, perkembangan penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan akut, serta kesiapan layanan kesehatan bagi warga terdampak.
Juru Bicara Utama Kementerian Kesehatan, drg. Widyawati, mengatakan pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan dan koordinasi antarpihak menghadapi risiko paparan asap. Ia menyebut pemantauan kualitas udara menjadi dasar penyusunan langkah perlindungan kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang paling rentan.
“Kami memahami kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kabut asap bagi kesehatan, sehingga pemerintah bersiaga dan memperkuat koordinasi lintas sektor. Koordinasi dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap berjalan optimal selama kondisi pencemaran udara berlangsung,” ujarnya dalam konferensi pers BNPB Kebakaran Hutan dan Lahan, Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu, 4 November 2026.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara per 3 November 2026 pukul 09.00, dua kabupaten kota tercatat berkategori berbahaya. Selain itu, 15 kabupaten kota masuk kategori tidak sehat, 60 sedang, sedangkan 14 lainnya memiliki kualitas udara baik.
Wilayah paling mengkhawatirkan ialah Kotawaringin Timur dengan konsentrasi PM2.5 udara tercatat mencapai 580 dan Palangka Raya sebesar 348. Daerah lain berkategori tidak sehat meliputi Muaro Jambi, Barito Selatan, Sukamara, Katingan, Palembang, serta Bengkalis di Sumatera.
“Data pemantauan menunjukkan Kotawaringin Timur dan Palangka Raya perlu mendapat perhatian khusus karena kualitas udaranya masuk kategori berbahaya. Masyarakat di wilayah terdampak perlu memperhatikan informasi kualitas udara dan mengurangi paparan asap harian,” ujarnya.
Di Kalimantan Tengah, lima wilayah berkategori tidak sehat, yakni Barito Selatan, Sukamara, Katingan, Pulang Pisau, serta Gunung Mas. Di Riau, empat daerah berkategori tidak sehat ialah Pekanbaru, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Bengkalis; Rokan Hilir tercatat baik.
Pemantauan di Sumatera Selatan menemukan tiga wilayah berkategori tidak sehat, yakni PALI, Ogan Ilir, dan Kota Palembang setempat. Di Jambi, Muaro Jambi dan Kota Jambi masuk kategori tidak sehat, sedangkan Tanjung Jabung Barat tercatat berkategori baik.
“Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur juga perlu mendapat perhatian karena kualitas udaranya tercatat tidak sehat berdasarkan hasil pemantauan. Meski Kalimantan Selatan belum mencatat wilayah berkategori tidak sehat, masyarakat tetap perlu waspada terhadap paparan asap karhutla,” katanya, menjelaskan.
Kemenkes mengingatkan masyarakat agar mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan menerapkan langkah perlindungan sesuai kondisi lingkungan sekitar masing-masing. Upaya kewaspadaan penting untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, terutama ketika paparan asap kebakaran masih memengaruhi daerah di Indonesia.

