Jakarta,-Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan persoalan gizi serius pada kelompok remaja dalam pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekolah. Hasil pemeriksaan menunjukkan satu dari empat remaja mengalami anemia atau kekurangan zat besi.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi menjelaskan kekurangan zat besi berdampak pada konsentrasi belajar hingga produktivitas. Pemeriksaan anemia dilakukan pada siswa kelas 7 putra-putri serta kelas 10 putri sebagai kelompok berisiko tinggi.
“Di remaja, kami menemukan masalah gizi yang cukup memprihatinkan dan satu dari empat remaja mengalami anemia. Ini menunjukkan kondisi gizi yang kurang baik karena kekurangan darah atau zat besi,” kata Maria Endang Sumiwi dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu, 25 Januari 2026.
Ia menjelaskan, pencegahan dilakukan melalui edukasi konsumsi gizi seimbang serta pemberian tablet tambah darah. Khususnya bagi remaja putri yang lebih rentan mengalami anemia akibat menstruasi.
“Pencegahannya dengan makan bergizi seimbang dan rutin minum tablet tambah darah. Untuk yang sudah anemia, kami lakukan suplementasi tablet tambah darah dan kontrol kembali sampai kondisinya membaik,” ucap Endang menjelaskan.
Karena itu, Kemenkes menegaskan deteksi dini dan intervensi rutin di sekolah menjadi langkah penting. Hal ini dilakukan untuk mencegah dampak jangka panjang anemia, termasuk gangguan tumbuh kembang dan penurunan prestasi belajar remaja.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep, Herlina menuturkan ditemukannya sebanyak 1.547 kasus hipertensi di lingkungan sekolah. Data tersebut berdasarkan hasil skrining CKG anak sekolah hingga Agustus 2025.
“Dari jumlah tersebut, 1.404 anak masuk kategori hipertensi tingkat 1, sementara 143 anak terdeteksi hipertensi tingkat 2. Melihat anak sekolah sudah ada yang terdeteksi hipertensi adalah alarm bahwa pencegahan harus dimulai jauh lebih awal,” kata Herlina.

