Tapanuli Tengah: Sebanyak 713 jiwa warga Desa Simpang Tiga Rampah, Cutahuis, Tapanuli Tengah terisolasi selama 17 hari. Untuk penjemputan bantuan logistik 200 Kepala Keluarga (KK) itu harus menempuh 8-9 jam melalui jalur hutan.
Desa Rampah, pada khususnya, pada umumnya Kecamatan Sitahuis, sudah ke-17 hari daerah kami terisolir. Kemarin sore Puji Tuhan, Alhamdulillah sudah terbuka dan bisa terakses,” ujar PJ Kepala Desa Simpang Tiga Rampah, Alfredo Banjarnahor, Jumat (12/12/2025).
Dia mengaku memang menjadi perhatian pemerintah pusat berkolaborasi dengan pemerintah daerah dari awal sudah melakukan perbaikan-perbaikan di wilayah-wilayah yang ada titik longsor. “Tapi ini baru sampai di kecamatan kita dihari ke-16,” ucap Alfredo.
Jadi, lanjutnya, upaya pemerintah sudah dirasakan baik dari pusat maupun daerah. Mulai bantuan logistik sejauh ini dan juga perbaikan-perbaikan pada titik-titik longsor yang sudah dikerjakan.
“Untuk penjemputan logistik memang desa kita karena terisolir (0:53) itu juga membutuhkan waktu yang sangat lama. Hampir sembilan jam, kasihan masyarakat, akibat medan yang sangat susah,” kata dia.
Alfredo menegaskan hari ini alat berat sudah sampai disini dan bantuan logistik sudah bisa sampai di desanya langsung. Jadi memang sangat cepat bantuan dari pemerintah ini penanganannya dari Tarutung sampai ke Simpang Rampah ini.
“Kami berharap pekerjaan untuk titik-titik longsor dapat segera dilakukan hingga bisa tembus ke Sibolga. Ini agar ekonomi masyarakat bisa berjalan sebagaimana pada sebelum bencana terjadi,” ujarnya.
Ditambahkan Tokoh Adat Desa Simoang Tiga Rampah, Badita Hutagalung, saat terisolir selain mendapatkan bantuan dengan berjalan kaki juga dibagikan melalui helikopter. Pembagiannya sekitar 3-4 hari kemarin.
“Untuk listrik kami juga baru seminggu lalu. Selama terisolasi desa kami gelap gulita,” kata Badita.

