Jakarta,-Drama Piala Dunia 2026 nampaknya belum selesai, meski laga final telah digelar dengan sukses di Amerika Serikat (AS). Kali ini, petisi daring menyerukan agar tim nasional Argentina dilarang tampil di Piala Dunia secara permanen menjadi sorotan dunia.
Petisi daring tersebut, nyaris masuk buku Guinness World Records, karena telah terkumpul lebih dari 23 juta tanda tangan. Gelombang petisi bertajuk ‘Argentina Out’ itu, sebagai salah satu petisi elektronik terbesar yang pernah beredar secara global.
Melansir laporan RMC Sport dan Eurosport, petisi itu telah ditandatangani sekitar 23.316.108 orang yang berasal dari hampir 170 negara. Jumlah tersebut melampaui target awal yang dipatok para penggagas, yakni lima juta tanda tangan.
Petisi penolakan terhadap Argentina itu, mulai beredar selama berlangsungnya Piala Dunia 2026. Dengan membawa, tuduhan bahwa FIFA dan sejumlah wasit dianggap memberikan perlakuan yang menguntungkan Argentina serta kaptennya, Lionel Messi.
Tuduhan tersebut, muncul setelah sejumlah keputusan wasit di sepanjang turnamen memicu perdebatan di kalangan pecinta sepak bola. Dalam isi petisi, penggagas menyampaikan kritik keras terhadap penyelenggaraan turnamen.
“Mengapa timnas-timnas lain harus mengikuti turnamen jika pemenangnya sudah diketahui sebelumnya?. Keluarkan Argentina dari Piala Dunia dan berikan kesempatan yang adil bagi semua,” kata isi petisi tersebut seperti dilansir RMC Sport, Kamis, 23 Juli 2026.
Meski demikian, perjalanan Argentina pada Piala Dunia 2026 tidak berakhir dengan gelar juara. Tim Tango justru harus mengakui keunggulan Spanyol setelah kalah 0-1 pada laga final.
Kontroversi wasit juga sempat mencuat ketika Argentina menghadapi Mesir di babak 16 besar. Sejumlah keputusan pengadil lapangan dalam pertandingan tersebut memicu kritik dan menjadi salah satu alasan lahirnya petisi tersebut.
Besarnya jumlah dukungan membuat petisi ‘Argentina Out’ disebut-sebut berpeluang mencatat sejarah baru. Dengan lebih dari 23 juta tanda tangan, petisi itu hanya terpaut kurang dari satu juta dukungan untuk menyamai rekor dunia.
Menurut Guinness World Records, rekor tersebut masih dipegang kampanye Jubilee 2000 yang diluncurkan pada 1997. Gerakan yang menuntut penghapusan utang negara-negara miskin itu, berhasil mengumpulkan lebih dari 24 juta tanda tangan.
Walaupun menjadi fenomena global di dunia maya, petisi tersebut tidak membawa konsekuensi hukum maupun olahraga bagi Argentina. Hingga kini, FIFA tidak memberikan tanggapan resmi terhadap tuntutan yang diajukan dalam petisi tersebut.
Setelah Argentina kalah dari Spanyol di partai final, para penggagas petisi menutup kampanye mereka. “FIFA mengabaikan kami, tetapi Spanyol menepati janjinya… terima kasih Spanyol,” ucap lagi isi petisi tersebut.
Pada akhirnya, petisi tersebut hanya menjadi bentuk ekspresi publik di ruang digital tanpa memengaruhi status Argentina dalam kompetisi internasional. Timnas Argentina tetap berhak mengikuti seluruh ajang resmi yang diselenggarakan FIFA sesuai regulasi yang berlaku.

