Tangerang ,-Menteri Sosial, Saifullah Yusuf menyoroti maraknya Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) terutama pengemis musiman saat bulan Ramadan. Strategi kedepan, selain memperkuat Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) juga bakal mengintervensi daerah.
“Iya ini (PPKS, Red) menjadi tugas kita ya sebenarnya. Dan kembali lagi, ini tentu bersama daerah, langkah strategisnya adalah bagaimana kita memiliki data yang akurat tentang PPKS itu,” ujar Syaefullah Yusuf di UCE BSD, Tangerang, Jumat 27 Februari 2026.
Untuk itu, Gus Ipul, sapaan akrab Syafullah, pihaknya tengah berkomunikasi dengan Pemerintah Daerah untuk pendataan tersebut. Nantinya, akan ada bantuan bagi yang masuk kategori penerima manfaat bila data itu sudah ada.
“Jadi kita sedang konsolidasi dengan daerah supaya kita tahu datanya. Yang penting datanya ini bisa kita ketahui sehingga kita bisa mengintervensi dan yang paling tahu tentu adalah para kepala daerah, Dinsos setempat, maupun juga para kepala desa,” ucapnya.
“Bagaimana kita bisa memetakan sekaligus memberikan perhatian jangan sampai ada warga yang katakanlah tercecer. Padahal mereka membutuhkan bantuan,” kata Gus Ipul.
Gus Ipul mewanti-wanti jangan sampai penerima bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah diterima oleh yang tidak berhak. Sehingga penguatan data perlu agar pengemis musiman teridentifikasi berhak atau tidak berhak mendapat bantuan.
“Jangan sampai bantuan-bantuan pemerintah diterima oleh mereka yang tidak berhak, tapi diterima oleh mereka-mereka yang paling membutuhkan. Kalau yang tadi disebut itu misalnya masuk dalam data, kan kita bisa intervensi bersama-sama,” kata dia.
Sekali lagi, Gus Ipul menegaskan, ini tugas bersama, maka dirinya keliling kesejumkah wilayah bersana Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Yandri Susanto. Bahkan juga, bertemu kepala desa, bersama pendamping dan lain sebagainya untuk mengajak bersama-sama ini memperbaiki data yang dimiliki.
“Kalau tidak dari pemerintah, mungkin juga kita bisa ajak kerjasama seperti Basnas, atau juga lembaga-lembaga swasta. Maka itulah langkah strategis bagaimana arahan Bapak Presiden, kita perkuat data kita dulu,” ujarnya.
Seolah-olah kalau datanya diperkuat, lanjutnya, pelan-pelan bisa diatasi secara bertahap. “Bagaimana kita misalnya membiasakan diri untuk tidak memberikan sesuatu ketika kita di perempatan, peraturan-peraturan tingkat daerahnya juga diperkuat dan kita ingin RT/RW benar-benar paham mengerti kondisi warganya,” kata Gus Ipul.
Mantan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), As’ad Said Ali menilai kesenjangan ekonomi yang menyebabkan pengemis membanjiri kota besar. Terutama saat perayaan hari besar keagamaan seperti Ramadan dan Idulfitri.
“Situasi ini penyebabnya adalah kesenjangan ekonomi dan pembangunan yang tidak merata antara daerah dan kota. Seseorang yang menjadikan meminta-minta sebagai pekerjaannya adalah sesuatu yang dilarang oleh agama Islam,” kata dia.
Menurut As’ad, permasalahan pengemis ini adalah masalah yang harus jadi perhatian bersama masyarakat dan pemerintah. Dia pribadi memandang program pembangunan yang dimulai dari kawasan pinggiran dan dari desa oleh pemerintah sudah tepat dan harus didukung.

