Jakarta,- Makanan khas Indonesia, Tempe hingga kini belum diakui oleh UNESCO karena bahan bakunya sebagian besar produk impor. Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, Endah Astuti mengatakan hal itu Kamis 19 Desember 2025.
“Dari segi riset, dokumentasi dan dukungan dari stakeholder sudah lengkap. Masalah utamanya karena komoditas kedelai 80 persen masih impor,” katanya.
Endah mengatakan hal itu usai menghadiri “Seminar dan Pameran Budaya Tempe: Goes to UNESCO”. Acara digelar di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Kamis (19/12/2025).
Menyoroti hal tersebut, pemerintah melakukan dua alternatif yaitu tetap menggunakan bahan kedelai namun mengurangi kandungan kedelai impor. Aleternatif kedua adalah melakukan inovasi mengganti bahan kedelai dengan memanfaatkan kacang-kacangan lokal.
Ia menjelaskan tempe sebenarnya juga bisa dibuat dari berbagai jenis kacang-kacangan lain selain kedelai. Oleh karena itu, penting untuk mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat agar tempe non-kedelai bisa diterima.
Sementara itu, Direktur Promosi Kebudayaan, Undri SS menyampaikan bahwa budaya tempe di Indonesia telah dikenal di dunia. Tempe menjadi salah satu makanan yang menguatkan perekonomian Indonesia.
“Tidak hanya di Indonesia, tapi dunia, tempe semakin banyak di kenal. Ini menjadi salah satu kebanggaan yang luar biasa bagi kita semua rakyat Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap, dengan semakin dikenalnya tempe secara global, pengolahan dan inovasi tempe terus berkembang. Selain itu, masyarakat semakin menghargai warisan budaya ini, dan generasi muda terdorong untuk melestarikan nilai ekonomi tempe.

