Jakarta – Praktisi Kesehatan Masyarakat, Dr. Ngabila Salama menyampaikan adanya alasan khusus dokter spesialis enggan menetap lama di wilayah terpencil. Menurutnya, penyebab utamanya adalah belum ada penghargaan atau insentif pemerintah bagi dokter spesialis mengabdi di daerah.
“Take and give-nya apa nih dari pemerintah untuk dokter-dokter yang bukan putra daerah. Tetapi mau mengabdi di daerah tersebut, nah tentunya kan harus ada,” katanya dalam wawancara, Sabtu, 17 Januari 2026.
Ia menekankan bahwa skema timbal balik tersebut harus sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan dokter. Menurutnya, tanpa kebijakan yang adil dan menarik, sulit mengharapkan dokter spesialis bertahan lama di daerah terpencil.
Selain itu, ia menilai solusi jangka panjang yang paling ideal adalah menyekolahkan putra daerah menjadi dokter spesialis. Dengan demikian, setelah menyelesaikan pendidikan, mereka berpotensi kembali mengabdi di daerah asalnya.
“Memang yang terbaik adalah kita menyekolahkan putra daerah. Ketika putra daerah disekolahkan, suatu keria dia akan kembali, bahkan mungkin akan menjadi ASN,” ujarnya, menjelaskan.
Untuk mencegah kekurangan dokter spesialis di daerah terpencil, ia menyarankan fakultas kedokteran mengirim residen. Yaitu para mahasiswa dokter spesialis untuk belajar mengabdi di wilayah terpencil.
Selain itu, pemerintah juga harus memberikan insentif khusus kepada dokter spesialis yang menetap di wilayah terpencil. “Saat ini insentif yang diberikan masih kurang,” ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut kebijakan pemerintah memberikan tunjangan khusus untuk dokter spesialis. Pemberian insentif ini merupakan ide dari Presiden Prabowo Subianto bagi dokter spesialis di wilayah 3T.
Kebijakan itu, yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2025. “Beliau yang akan luncurkan, karena itu idenya beliau ya,” ujarnya.
Walaupun demikian, ia belum dapat menyebutkan tanggal pastinya. Karena menyesuaikan dengan agenda-agenda Presiden Prabowo.

