Beijing,-Kota-kota di bagian selatan Tiongkok bagian selatan mulai menutup sekolah dan perkantoran, serta membatalkan sejumlah penerbangan. Ini dilakukan guna mengantisipasi datangnya topan dahsyat Ragasa, yang sebelumnya melanda Filipina hingga menewaskan tiga orang.
Penduduk yang tinggal di daerah rawan banjir telah memasang karung pasir dan penghalang di pintu rumah mereka. Sementara yang lainnya menempelkan selotip pada kaca-kaca jendela dan pintunya mencegah dampak serbuan angin kencang.
Sejumlah warga juga menimbun makanan dan kebutuhan pokok lainnya, sementara para pedagang menyaksikan barang-barang dagangan mereka laris terjual. Di Hong Kong, warga berkumpul untuk menyaksikan gelombang setinggi dua hingga tiga meter menghantam area pejalan kaki.
Topan Ragasa disertai angin berkecepatan maksimal 195 kilometer/jam bergerak melintasi bagian utara Laut Cina Selatan. Badai tersebut diprediksi dalam waktu dekat akan memasuki pesisir Provinsi Guangdong, pusat perekonomian di selatan Tiongkok.
Menurut otoritas setempat, lebih dari 1 juta orang telah direlokasi di provinsi tersebut. Pusat Meteorologi Nasional Tiongkok memprakirakan Topan Ragasa mencapai kota-kota Taishan dan Zhanjiang pada Rabu (24/9/2025) siang hingga sore.
Hujan lebat juga akan melanda sebagian besar provinsi-provinsi Guangdong dan Fujian. Lembaga Observatorium Hong Kong memberi peringatan kewaspadaan tingkat tinggi terhadap potensi datangnya badai.
Permukaan air di pesisir Hong Kong diperkirakan naik hingga dua meter, bahkan di beberapa daerah bisa mencapai 4–5 meter. Kondisi tersebut mirip kemunculan Topan Hato (2017) dan Mangkhut (2018) yang sempat melumpuhkan pusat keuangan Asia itu.
Otoritas Hong Kong dan Makau pun meliburkan anak-anak sekolah untuk sementara waktu. Ratusan warga pun mencari perlindungan di tempat penampungan sementara.
Kegiatan-kegiatan bisnis, pendidikan, produksi, dan transportasi di sejumlah kota di selatan Tiongkok juga dihentikan. Di antaranya Shenzhen, Guangzhou, dan Foshan di Provinsi Guangdong, serta Haikou di Provinsi Hainan.
Bandara Hong Kong dan Shenzhen juga membatalkan ratusan penerbangan sejak Selasa (23/9/2025) malam. Sedangkan Pemerintah Macao mengevakuasi penduduk dan wisatawan serta menutup jembatan-jembatan perlintasan.

