Halmahera Utara,-Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara. Saat ini, status gunung tersebut berada pada Level II (Waspada).
Peningkatan aktivitas tersebut disertai lontaran material pijar. Hal ini berpotensi membahayakan karena arah lontarannya tidak dapat diprediksi.
“Aktivitas gunung meningkat. Disertai dengan lontaran batuan ke segala arah yang tidak dapat dipastikan jangkauannya,” ujar Ketua Tim Kerja Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Heruningtyas Desi Purnamasari.
Ia juga mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Dukono menggunakan masker dan pelindung mata guna menghindari dampak abu vulkanik. Selain itu, masyarakat diminta aktif memperbarui informasi dari sumber resmi untuk menghindari hoaks.
“Masyarakat harus mengakses informasi resm karena banyak beredar informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” katanya. Informasi perkembangan aktivitas Gunung Dukono dapat diakses melalui kanal resmi PVMBG, salah satunya melalui situs Magma Indonesia.
Secara geografis, Gunung Dukono terletak pada koordinat 1,693° LU dan 127,894° BT, dengan ketinggian 1.087 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan data pengamatan, pada Sabtu 4 April 2026, Gunung Dukono mengalami 53 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 6–34 mm dan durasi 40,64–148,27 detik.
Selain itu, tercatat satu kali gempa terasa dengan skala I MMI, amplitudo 34 mm, selisih waktu S-P 42,54 detik, dan durasi 155,08 detik. Gunung tersebut juga mengalami satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 34 mm dan durasi 114,99 detik.
Serta satu kali tremor menerus dengan amplitudo 1–16 mm, dominan 5 mm. PVMBG mengimbau masyarakat, pengunjung, dan wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, atau mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius 4 kilometer dari pusat aktivitas.
Letusan dengan abu vulkanik terjadi secara periodik. Dengan sebaran abu yang mengikuti arah dan kecepatan angin sehingga area terdampak tidak tetap.
Oleh karena itu, masyarakat di sekitar Gunung Dukono disarankan selalu menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut. Ini untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap sistem pernapasan.

