Banyak camilan (snack) kemasan yang dijual di pasaran mengandung gula dan garam tinggi tanpa disadari konsumen. Studi dari UNICEF menemukan hampir 72% camilan kemasan memiliki kandungan gula, dan garam melebihi rekomendasi kesehatan di Asia Tenggara.
Dilansir dari kemkes.go.id, kandungan gula yang tinggi sering ditambahkan untuk rasa manis instan pada camilan manis dan olahan. Sementara itu, garam atau natrium sering digunakan pada camilan asin untuk memperkuat rasa serta memperpanjang masa simpan produk.
Camilan kemasan seringkali mengandung gula 10–30 gram per porsi sajian. Jumlah tersebut sudah setara atau bahkan melebihi setengah batas asupan gula harian yang dianjurkan.
Untuk garam, sejumlah camilan asin mengandung lebih dari 300–600 miligram natrium per porsi. Angka ini dapat menyumbang lebih dari 25 persen batas natrium harian hanya dari satu kali konsumsi.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan konsumsi gula harian tidak melebihi 50 gram atau 10 persen total energi. Sementara konsumsi garam dianjurkan kurang dari 5 gram per hari untuk orang dewasa.
Konsumsi gula berlebih secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe dua, dan gangguan metabolik. Asupan garam berlebih juga berkaitan erat dengan hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
Penting bagi konsumen untuk membaca label nutrisi (nutrition facts) yang tertera di kemasan dengan cermat. Label tersebut memuat informasi kandungan gula, natrium, lemak, dan kalori per porsi sajian.
Kesalahan sering terjadi karena konsumen tidak memahami ukuran takaran saji pada label nutrisi. Akibatnya, asupan gula dan garam yang masuk ke tubuh jauh lebih besar dari batas yang dianjurkan dan memicu risiko kesehatan.

