Jakarta,- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan operasi pembersihan di wilayah terdampak bencana Sumatra masih terus berlangsung. Salah satunya percepatan pembersihan sekolah-srkolah, agar kegiatan belajar-mengajar dapat segera kembali berjalan.
“Kami masih terus melakukan operasi pembersihan. Kemarin juga sudah kami sampaikan bahwa ada sekolah-sekolah yang memang kami targetkan sudah bersih dan laik pakai dalam waktu dekat,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan pers, Minggu (4/1/2026).
Namun demikian, Abdul Muhari menjelaskan bahwa tidak seluruh sekolah dapat langsung digunakan karena masih ada yang dalam tahap pembersihan. Ia menambahkan, progres pembersihan terus dikebut di berbagai titik, baik sekolah umum maupun madrasah.
“Untuk sekolah yang masih dibersihkan, sementara kami optimalkan tenda darurat agar kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan. Beberapa titik sekolah sudah bersih dan ini terus kami percepat, baik di sekolah umum maupun madrasah,” ujarnya.
Selain sektor pendidikan, BNPB juga terus mengoptimalkan pelayanan kesehatan di daerah terdampak. Ia juga menyampaikan bahwa hampir seluruh rumah sakit umum daerah (RSUD) di kabupaten dan kota terdampak telah kembali beroperasi.
“Untuk layanan kesehatan, hampir seluruh RSUD di kabupaten dan kota terdampak sudah beroperasi. Masih ada puskesmas beroperasi terbatas, sehingga layanan kesehatan diperkuat melalui tenda layanan dan dukungan relawan agar masyarakat terjangkau,” kata dia.
Sementara itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyebut 85 persen sekolah terdampak bencana di wilayah Sumatra siap kembali digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Pemerintah terus mempercepat pemulihan sektor pendidikan agar proses belajar mengajar dapat segera berjalan normal.
“Di Sumatra Utara dan Sumatra Barat, seluruh satuan pendidikan terdampak telah dinyatakan siap beroperasi 100 persen. Sedangkan, di Aceh masih ada sekolah belum difungsikan karena akses terbatas dan bangunan tertutup lumpur akibat bencana,” kata Abdul Mu’ti menjelaskan.

