Jakarta,-Ancaman karhutla di enam provinsi Indonesia masih menjadi perhatian serius seiring kondisi cuaca kering yang diperkirakan bertahan hingga 24 Oktober 2026. BMKG mengingatkan, minimnya pembentukan awan hujan di sejumlah daerah dapat memperbesar risiko kebakaran lahan.
Enam provinsi yang menjadi perhatian BMKG, meliputi Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Kondisi tersebut, menuntut peningkatan kewaspadaan, terutama di wilayah yang masih mengalami cuaca panas dan kekurangan curah hujan.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan, kondisi atmosfer di Indonesia belum sepenuhnya mendukung terbentuknya hujan. Situasi ini, diperkirakan berlangsung hingga 24 Oktober 2026, sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan tetap perlu diantisipasi.
“Hasil pemantauan BMKG pada 16 Oktober 2026, sebanyak 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi teridentifikasi di berbagai wilayah Indonesia. Sumatra Selatan menempati posisi teratas dengan 189 titik panas, disusul Jawa Timur sebanyak 89 titik dan Papua Selatan dengan 63 titik,” kata Andri dalam keterangannya seperti dilansir laman resmi BMKG, Senin, 19 Oktober 2026.
Sementara itu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, Andri mengatakan, masing-masing mencatat 26 titik panas. Meski terdapat indikasi penurunan jumlah titik panas di wilayah yang dipantau, BMKG menegaskan bahwa ancaman karhutla belum sepenuhnya mereda.
“Perkembangan ini menunjukkan penurunan jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut. Meskipun potensi karhutla tetap perlu diwaspadai,” ucap Andri.
Temuan titik panas tersebut, ia mengungkapkan, menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan potensi kebakaran di tengah kondisi cuaca kering. Namun, keberadaan titik panas tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran karena masih memerlukan analisis dan verifikasi lebih lanjut.
Asap Karhutla Terdeteksi di Sejumlah Wilayah Indonesia
Selain memantau titik panas, BMKG mengidentifikasi, sebaran asap karhutla di sejumlah kawasan Indonesia. Wilayah yang terpantau meliputi sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua.
Berdasarkan pengamatan BMKG, pergerakan asap dipengaruhi pola angin yang bertiup di berbagai lapisan atmosfer. Sebaran asap, tersebut terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut, bergantung pada kondisi angin di masing-masing wilayah.
“Ppola angin pada lapisan atmosfer 925–500 hPa secara umum didominasi angin dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 5–34 knot. Pola tersebut, memengaruhi arah pergerakan dan penyebaran asap karhutla sekaligus berperan dalam proses pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Andri.
Di tengah ancaman cuaca kering dan karhutla, sejumlah wilayah Indonesia justru memiliki peluang tinggi mengalami pertumbuhan awan hujan. BMKG memperkirakan, potensi pertumbuhan awan hujan melebihi 70 persen di Sumatra bagian utara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.
Kondisi atmosfer tersebut dapat mendukung terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah daerah. Namun, potensi hujan tidak merata sehingga wilayah yang mengalami kondisi kering tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran lahan.
BMKG juga mengidentifikasi kemungkinan hujan dengan intensitas lebat di sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Papua Pegunungan. Perbedaan kondisi cuaca ini menunjukkan bahwa potensi bencana hidrometeorologi di Indonesia dapat bervariasi antardaerah dalam periode yang sama.

