Jakarta ,-Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Hempri Suyatna, mengungkapkan pengangguran muda meningkat karena pilihan kerja dan terbatasnya lowongan. Menurutnya, ketidaksesuaian pilihan pekerjaan dengan ketersediaan kesempatan kerja membuat sebagian generasi muda belum terserap optimal dalam pasar kerja.
“Generasi muda mungkin juga senang memilih pekerjaan. Ini juga menjadi tren bagi mereka,” kata Hempri, Minggu 9 Agustus 2026.
Hempri menilai rendahnya minat memasuki sektor informal turut memperbesar pengangguran usia muda karena sektor tersebut sebenarnya menyerap pekerja. Ia berpandangan pemerintah perlu memperkuat ekosistem kewirausahaan agar generasi muda memiliki pilihan produktif ketika pekerjaan formal terbatas tersedia
“Anak-anak muda enggak terjun di sektor-sektor informal, padahal salah satu katup penyelamat perekonomian kita adalah sektor informal. Saya kira memang perlu ada upaya untuk mendorong ekosistem kewirausahaan itu bisa berjalan dengan baik, misalnya infrastruktur permodalan,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurut Hempri, berisiko memunculkan dampak sosial, termasuk kriminalitas dan perilaku negatif, apabila pengangguran muda terus meningkat tanpa penanganan. Dia menilai, penguatan kewirausahaan berbasis potensi daerah dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kabar yang tampak menggembirakan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia kembali menurun.
Namun di balik angka tersebut tersimpan persoalan mendasar yang tidak boleh diabaikan. Tingkat pengangguran pada kelompok usia muda justru mengalami peningkatan yang signifikan.
Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS, jumlah pengangguran terbuka dari kalangan lulusan perguruan tinggi (D-IV, S1, S2, hingga S3) telah menembus 1,03 juta orang atau mencapai sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta penganggur nasional.

