Teheran,-Iran dilaporkan menerapkan sistem “gerbang tol” baru di Selat Hormuz dengan mewajibkan kapal tanker membayar biaya untuk mendapat pengawalan. Pembayaran tersebut dilakukan dalam yuan Tiongkok atau mata uang kripto sebagai imbalan akses aman melintasi jalur strategis tersebut.
Melansir dari The Independent, Jumat, 3 April 2026, sistem ini muncul di tengah blokade selektif yang diberlakukan Iran. Lalu lintas kapal turun hingga sekitar 90 persen dan mendorong kenaikan harga minyak global.
Beberapa negara dilaporkan telah mencapai kesepakatan dengan Teheran untuk menjamin perjalanan tanpa hambatan. Biaya perjalanan disebut dapat mencapai hingga 2 juta dolar (Rp33,9 miliar) per kapal, tergantung jenis dan muatan.
Sistem yang kini lebih formal itu juga mencakup mekanisme penilaian negara dari satu hingga lima berdasarkan tingkat kedekatan dengan Iran. Negara yang dianggap lebih bersahabat dapat memperoleh tarif lebih rendah, mulai dari sekitar satu dolar per barel minyak.
Sebelum melintas, kapal harus melalui proses pemeriksaan ketat untuk memastikan tidak memiliki hubungan dengan Amerika Serikat atau Israel. Setelah lolos pemeriksaan, operator kapal menegosiasikan biaya yang dibayarkan dalam yuan atau stablecoin.
Pembayaran yang berhasil memberi kapal akses ke jalur tertentu. Selain itu, kapal akan diberi kode rahasia untuk memanggil kapal patroli Iran yang akan mengawal perjalanan.
Kapal juga dilaporkan diminta mengibarkan bendera negara yang menegosiasikan akses. Beberapa pekan terakhir, banyak kapal mengambil rute memutar melalui kanal sempit di dekat Pulau Larak dan terlihat mengantre menunggu izin.
Sejumlah kapal bahkan dilaporkan diputar balik, sementara sebagian transit didominasi kapal yang terkena sanksi Amerika Serikat. Pengamat menilai blokade selektif tersebut justru menguntungkan Iran karena memberi kendali atas jalur perdagangan energi.
Parlemen Iran juga dilaporkan menyetujui rencana tarif tetap bagi kapal asing, meski langkah tersebut dinilai melanggar hukum internasional. Sementara itu, Inggris menggelar pertemuan internasional untuk mencari cara membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan kebebasan navigasi global.

