Jakarta ,-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan peringatan dini tsunami telah berakhir setelah gempa kuat mengguncang wilayah Sulawesi Utara. Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak ada kenaikan muka air laut signifikan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, tsunami sempat terdeteksi di sejumlah wilayah dengan ketinggian bervariasi. Data tersebut berasal dari alat pengukur pasang surut laut atau tide gauge di beberapa titik.
“Ketinggian tsunami terdeteksi di Halmahera Barat 0,3 meter, Bitung 0,2 meter, dan Sidangoli 0,35 meter. Di Minahasa Utara tercatat 0,75 meter dan Belang 0,68 meter,” ujaatau saat konferensi pers di Jakarta, Kamis, 2 April 2026.
Faisal menambahkan, sejumlah wilayah lain juga mencatat kenaikan muka air laut meski relatif kecil. Data ini menjadi bagian penting dalam analisis kondisi pasca gempa.
“Hingga pukul 09.50 WIB terdapat 48 gempa susulan dengan magnitudo antara 3 hingga 5,5. Dari jumlah tersebut, dua gempa dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
BMKG memastikan kondisi laut sudah kembali stabil dan tidak menunjukkan potensi bahaya lanjutan. Oleh karena itu, peringatan dini tsunami resmi diakhiri pada pukul 09.56 WIB.
Meski demikian, BMKG tetap memantau aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di wilayah terdampak. Koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah daerah untuk penanganan lebih lanjut.
BMKG turut mengirimkan tim ke lokasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memastikan kondisi lapangan. Tim dari pusat dan wilayah juga dikerahkan guna mendukung pemantauan.
Faisal mengimbau masyarakat hanya mengakses informasi resmi dari BMKG melalui kanal yang telah terverifikasi. Hal ini penting untuk menghindari informasi yang tidak benar di tengah situasi bencana.

