Pematangsiantar,- Anggota DPR RI, H. Ansory Siregar, Lc, kembali melaksanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara di Sekolah Yayasan Cendekia, Jalan Kyai I No.17, Kelurahan Banten, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Rabu siang (11/3/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Ansory Siregar menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan kepada para siswa dan tenaga pendidik. Menurutnya, pemahaman yang kuat terhadap pilar kebangsaan akan membentuk karakter generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.
“Empat Pilar ini harus benar-benar ditanamkan agar anak-anak bangsa tidak hanya sekadar mengetahui, tetapi juga memahami serta mengamalkan maknanya dalam setiap tindakan,” ujar Ansory dalam pemaparannya.
Pada kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya memperkuat rasa nasionalisme di tengah masyarakat. Menurutnya, nasionalisme merupakan fondasi penting dalam mewujudkan kemajuan bangsa, terlebih di tengah derasnya pengaruh globalisasi yang terus berkembang.
Selain itu, Ansory turut menyinggung fenomena aliran kekayaan sejumlah pihak yang disimpan di luar negeri. Ia juga mengkritisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang dinilainya masih lebih berpihak kepada kepentingan pengusaha besar dan belum sepenuhnya memberikan perlindungan maksimal bagi kaum buruh.
Ansory menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014, setiap anggota MPR RI memiliki kewajiban untuk menyosialisasikan serta memasyarakatkan Empat Pilar Kebangsaan kepada masyarakat di daerah pemilihannya.
Ia juga memaparkan bahwa Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara terdiri dari Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa.
“Keempat pilar ini harus kita jaga dan pelihara bersama sebagai rakyat Indonesia,” tegasnya di hadapan peserta sosialisasi.
Dengan penuh semangat, Ansory kemudian menjelaskan satu per satu makna pilar kebangsaan tersebut. Ia mencontohkan bahwa nilai-nilai Pancasila harus diimplementasikan dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menutup kegiatan, Ansory Siregar mengajak lima peserta dari latar belakang suku dan bahasa berbeda untuk maju ke depan dan menyampaikan pidato singkat menggunakan bahasa daerah masing-masing sebagai simbol keberagaman Indonesia.
“Lihatlah betapa indahnya semboyan bangsa kita. Bahasanya berbeda-beda, tetapi kita tetap satu. Inilah makna Bhinneka Tunggal Ika,” pungkasnya.

