Jakarta,- Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Puji Ismartini memaparkan perkembangan harga bawang putih nasional. Hingga pekan ketiga Januari 2026, harga bawang putih berada di atas harga acuan penjualan (HAP).
“Pertama untuk bawang putih, kita lihat jumlah kabupaten kota yang mengalami kenaikan. Harga bawang putih di minggu ketiga Januari 2026 ini meningkat cukup tinggi dari di minggu sebelumnya yang 180 kabupaten kota menjadi 203 kabupaten kota,” ucap dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Secara umum, harga bawang putih hingga M3 Januari 2026 naik 1,88 persen. Kenaikan dibandingkan posisi harga pada Desember 2025.
Rata-rata harga bawang putih nasional tercatat sekitar Rp39.763 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga acuan konsumen (HAK) Rp38 ribu per kilogram.
BPS mencatat bawang putih mengalami kenaikan indeks harga perdagangan. Kenaikan terjadi di 56,39 persen wilayah kabupaten dan kota di Indonesia.
Jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga terus bertambah. Pada pekan ketiga Januari 2026, tercatat 203 kabupaten dan kota mengalami kenaikan.
Sementara itu, harga bawang putih tertinggi tercatat mencapai Rp100 ribu per kilogram di Kabupaten Intan Jaya dan Pegunungan Bintang. Harga terendah berada di kisaran Rp26.115 per kilogram.
BPS menilai data ini menjadi pengingat pengendalian inflasi pangan. Perkembangan harga bawang putih perlu terus dipantau menjelang Ramadhan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir menyoroti kenaikan harga bawang putih dan minyak goreng. Khusus bawang putih kenaikan harga kata Tomsi berkaitan dengan kebijakan impor.
“Yang naik, ini adalah bawang putih, kemudian minyak goreng,” katanya. Tomsi pun mengingatkan pada periode Lebaran, impor bawang putih biasanya tidak dilakukan.
Libur impor menyebabkan pasokan terbatas di pasar. Sehingga kondisi tersebut mendorong kenaikan harga komoditas.

