Medan,- Matahari mulai condong ke barat saat sinarnya yang keemasan menari di antara pilar-pilar kuning emas Istana Maimun. Angin sore berembus lembut, menyapu daun bunga Kemboja yang berbisik di pelataran istana warisan Kesultanan Deli itu. Suasana hangat menyelimuti halaman istana, tempat di mana sejarah dan masa depan duduk berdampingan, membicarakan tentang jati diri sebuah kota.
Di bawah langit jingga, Datuk Afifuddin Ali Akbar, bergelar Datuk Panglima Perang Di Raja Metar Bilat Deli, berdiri sambil bercerita tentang sejarah Istana Maimun. Sorot matanya tajam, menatap Istana yang telah berdiri sejak ratusan tahun silam. Ia tak sekadar mengamati bangunan penuh sejarah itu, tetapi memikirkan bagaimana nilai-nilai budaya leluhur bisa tetap hidup di tengah modernitas Kota Medan.
“Medan ini tanah Melayu,” ujarnya membuka percakapan. “Corak, ornamen, dan warisan Kesultanan Deli adalah napas dari kota ini. Tapi hari ini, kita mulai kehilangan identitas itu, pelan tapi nyata.”
Datuk Afifuddin tak sekadar bernostalgia. Ia membawa sebuah gagasan besar, menjadikan ornamen dan corak khas Melayu sebagai identitas resmi visual Kota Medan. Menurutnya, ini bukan hanya tentang estetika, tapi tentang akar budaya yang mengikat masyarakat Medan dengan sejarah panjangnya.
“Kita ingin ada aturan. Bukan sekadar himbauan. Bangunan pemerintah, ruang publik, taman kota, semua harus punya sentuhan Melayu. Corak lebah bergantung, susun sirih, itik pulang petang, pucuk rebung, motif bunga tanjung, atau warna-warna khas kesultanan harus hidup kembali. Ini cara kita menjaga marwah, bukan hanya untuk generasi sekarang, tapi juga untuk masa depan,” tegasnya.

Di dalam Istana, Sultan Deli ke-14, Sultan Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alamsyah, tampak duduk menyambut tamu di ruangan yang diakuinya dulu menjadi gudang. Sultan muda yang dikenal bersahaja ini menyambut dengan antusias gagasan yang berkembang.
“Ini momentum yang sangat baik,” ujarnya sambil tersenyum. “Saya siap berdiskusi langsung dengan Wali Kota Medan untuk merumuskan regulasi yang tepat. Corak Melayu bukan hanya milik istana, tetapi milik seluruh warga Medan. Ia harus hadir di sekolah, kantor, pusat perbelanjaan, agar kita semua tahu dari mana kita berasal.”
Sultan Mahmud melihat langkah ini sebagai cara elegan merangkul modernitas tanpa meninggalkan tradisi. Baginya, kemajuan kota tak harus berarti meninggalkan budaya. Justru dengan budaya yang kuat, identitas kota akan semakin kokoh di tengah arus globalisasi.

Dukungan terhadap inisiatif ini tak hanya datang dari lingkungan kesultanan. Di parlemen kota, suara yang sama menggema. Anggota DPRD Medan dari Komisi I, Syaiful Ramadhan, menyatakan sikap terbukanya terhadap gagasan ini.
“Langkah ini sangat positif,” kata Syaiful. “Kami di DPRD akan mendukung penuh jika regulasi ini dibawa ke ranah peraturan daerah. Ini bukan hanya tentang budaya, tapi juga soal membangun karakter kota. Ketika Medan punya identitas visual yang khas, pariwisata akan tumbuh, rasa memiliki masyarakat pun akan meningkat.”
Syaiful juga menambahkan bahwa sudah saatnya Kota Medan memanfaatkan keunikan warisan budaya lokal sebagai kekuatan utama dalam pembangunan kota. Ia percaya, dengan kemauan politik yang kuat dan dukungan masyarakat, perubahan ini bukanlah hal yang mustahil.

Sore itu di Istana Maimun, bukan hanya langit yang menghangat. Harapan pun menghangat, perlahan membubung bersama desir angin. Di tengah gema azan magrib dari kejauhan, semangat untuk menjadikan ornamen Melayu sebagai identitas Medan tak sekadar menjadi wacana, tapi mulai terasa sebagai gerakan kultural yang terstruktur dan menyatukan.
Dari istana yang dulu menjadi pusat kekuasaan, kini suara-suara baru muncul, bukan untuk menguasai, tapi untuk menjaga. Agar sejarah tak hanya tersimpan dalam buku, tapi hidup dalam tiap sudut kota. Agar Medan tak hanya besar dalam nama, tapi juga teguh dalam akar budayanya, Melayu.

