Jakarta,-Pemerintah terus mendorong optimalisasi penyerapan cabai petani di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Langkah ini dilakukan menyusul terganggunya distribusi akibat bencana.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman menyampaikan produksi cabai di wilayah tersebut tergolong melimpah. Namun, hasil panen petani belum terserap optimal karena kendala distribusi dan logistik.
“Kita terus lakukan SPHP Cabai, produksi cabe melimpah di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Tetapi penyerapan dan distribusi belum optimal akibat dampak bencana,” ucap Amran dalam paparannya yang disampaikan Kepala Pusat Data dan Informasi Pangan Bapanas, Kelik Budiana di Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Pangan Daerah di Jakarta, Senin (29/12/2025).
Amran menyebut bencana dan keterbatasan kendaraan angkut menyebabkan distribusi cabai tidak berjalan maksimal. Kondisi ini berdampak pada serapan hasil panen di tingkat petani.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mendorong penguatan kolaborasi hulu hingga hilir. Kolaborasi melibatkan petani, asosiasi petani, offtaker Rumah Tani Nusantara, dan pedagang pasar induk.
Pemerintah juga mengoptimalkan skema serapan business to business (B2B) melalui jalur darat. Skema ini ditujukan untuk menekan biaya logistik di wilayah terdampak bencana.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Akhmad Wiyagus menegaskan daerah harus hadir secara nyata. Ia menyebut pemerintah daerah perlu melakukan intervensi terukur agar hasil panen petani terserap.
Akhmad Wiyagus menekankan pengendalian inflasi dan perlindungan petani harus berbasis kondisi lapangan. Pemerintah daerah diminta memanfaatkan instrumen anggaran untuk mendukung kelancaran distribusi.
“Pemerintah daerah harus bergerak berbasis data dan tren harga,” ucap Akhmad Wiyagus. Ia menekankan pengendalian inflasi perlu dilakukan melalui intervensi yang tepat di pasar.

