Medan,-Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengintensifkan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau menyusul meningkatnya luas area yang terbakar akibat kondisi cuaca kering ekstrem.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, mengatakan upaya pengendalian karhutla dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, TNI, Polri, pemerintah daerah, masyarakat, hingga pihak swasta.
“Operasi darat maupun udara terus diintensifkan guna menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat, sekaligus memastikan langit Riau tetap biru,” ujar Dwi, Sabtu (28/3/2026).
Untuk memperkuat deteksi dini, Kemenhut memantau titik panas (hotspot) melalui sejumlah satelit seperti Terra, Aqua, SNPP, dan NOAA20. Berdasarkan data Satelit Terra/Aqua (NASA) periode 1 Januari hingga 26 Maret 2026, tercatat 625 titik panas di Indonesia, dengan 266 titik atau 42,56 persen berada di Riau.
Dwi menyebutkan, luas lahan yang terbakar di Riau selama periode Januari hingga Februari 2026 telah mencapai 4.440,21 hektare dan berpotensi terus bertambah seiring kondisi cuaca yang kering.
“Hingga saat ini, tim gabungan telah melakukan 265 operasi pemadaman darat di berbagai lokasi,” katanya.
Dalam penanganan karhutla ini, Kemenhut telah mengerahkan 387 personel gabungan, dengan kekuatan utama berasal dari Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhutla) Sumatra. Personel tersebut disebar di sejumlah wilayah operasi seperti Pekanbaru, Dumai, Siak, dan Rengat.
Selain itu, bantuan kendali operasi (BKO) Manggala Agni juga didatangkan dari luar Riau, di antaranya dari Jambi dan Sumatra Utara untuk memperkuat penanganan di lapangan.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan tim saat ini memfokuskan pemadaman di sejumlah daerah rawan seperti Dumai, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Bengkalis.
“Strategi awal yang dilakukan adalah menyekat api agar tidak meluas, kemudian memadamkan titik api utama serta sumber potensi asap,” ujarnya.
Ia mengakui, kendala utama di lapangan adalah keterbatasan sumber air akibat rendahnya curah hujan, khususnya di kawasan lahan gambut. Untuk mengatasi hal tersebut, tim bersama masyarakat dan pemerintah daerah melakukan pembuatan embung air serta perbaikan kanal dan sekat bakar.
Operasi pemadaman juga diperkuat melalui dukungan udara berupa satu unit helikopter milik Kemenhut dan dua helikopter milik BNPB yang digunakan untuk patroli, water bombing, serta evakuasi dengan total waktu terbang lebih dari 20 jam.
Selain itu, Kemenhut bersama BNPB dan BMKG juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berupa hujan buatan guna mempercepat penanganan karhutla. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Gubernur Riau dalam upaya menekan meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

