Tapanuli Selatan ,-Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan seluruh jalan nasional di Sumatera Utara yang terdampak bencana telah tersambung. Saat ini, jalan tersebut sudah dapat dilalui kendaraan.
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Utara Kementerian PU, Herdy Siahaan, memastikan, kini tidak ada lagi ruas jalan nasional yang terputus. Pasca bencana hidrometeorologi November 2025 tahun lalu.
“Jalan yang berada di daerah bencana ini, kita pastikan jalannya fungsional. Tidak ada yang putus,” kata Herdy di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Senin 16 Februari 2026.
Ia menjelaskan, terdapat sebanyak 268 titik jalan nasional yang terdampak bencana, baik dalam skala kecil maupun besar. Seluruh titik tersebut telah selesai diperbaiki sehingga dapat dilalui kendaraan.
Menurut Herdy, total panjang ruas jalan nasional yang terdampak di lima kabupaten dan kota di Sumatra Utara mencapai sekitar 40 hingga 50 kilometer. “Kalau untuk titik longsor yang perlu penanganan jumlahnya ada 268 dan itu sudah selesai dikerjakan, sehingga jalan sudah bisa dilalui,” ujarnya.
Meski demikian, Kementerian PU masih akan terus melakukan perbaikan lanjutan agar kondisi jalan kembali seperti semula. Proses pemulihan secara menyeluruh diperkirakan membutuhkan waktu hingga dua sampai tiga tahun.
Ia juga memastikan, menjelang momentum Lebaran mendatang, seluruh jalan nasional di Sumatera Utara akan dalam kondisi optimal. “Kita fokus untuk penanganan bencana dan seluruh jalan nasional di Sumatera Utara kita perbaiki,” katanya.
Sebelumnya, kebutuhan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur dasar pascabencana banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumatera ditaksir sekitar Rp51 triliun. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyebut, anggaran tersebut mencakup berbagai perbaikan infrastrutur.
Di antaran, perbaima jaringan jalan dan jembatan, infrastruktur sumber daya air seperti bendung dan irigasi, penyediaan air bersih dan sanitasi. Serta pembangunan kembali prasarana sosial seperti sekolah, madrasah, dan rumah ibadah.
Dari total kebutuhan tersebut, porsi terbesar dialokasikan untuk wilayah Aceh, yang mengalami dampak kerusakan cukup signifikan. Ini akibat bencana hidrometeorologi yang menghamtan wilayah serambi Mekah

