Batam,- Festival Media Selat Malaka 2026 menggelar nonton bareng Film Di Balik Ilusi Tembakau bersama Dinas Kesehatan dan pihak Bea Cukai Batam.
Film Di Balik Ilusi Tembakau merupakan garapan AJI Jakarta, disutradarai Irvan Imamsyah dengan penulis naskah Ambar Arum. Film membahas ‘ilusi’ yang seringkali disampaikan oleh industri rokok melalui iklan, kemasan, dan berbagai strategi pemasaran untuk membentuk persepsi masyarakat terhadap produk tembakau, agar tampak maskulin.
Epidemiolog Ahli Muda Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Mohammad Solihin mengatakan “ilusi” dalam film tersebut berkaitan dengan cara industri membangun persepsi konsumen. Menurutnya, iklan dan visual rokok kerap menggambarkan produk sebagai sesuatu yang menyegarkan, maskulin, atau membuat seseorang terlihat berani.
Solihin menjelaskan nikotin dapat merangsang sistem penghargaan di otak, termasuk pelepasan dopamin, yang dapat memperkuat keinginan seseorang untuk kembali mengkonsumsi rokok.
“Di dalam rokok itu sendiri, yang membuat efek di dalam tubuh kita adalah yang berhubungan dengan nikotin. Nikotin ini akan memicu hormon yang ada dalam otak kita,” katanya dalam Nobar Film “Di Balik Ilusi Tembakau”, Sabtu (20/9/2026).
Menurut Solihin, dampak rokok tidak hanya berkaitan dengan kecanduan, tetapi juga dapat muncul dalam jangka panjang dan memengaruhi produktivitas serta kualitas hidup. Ia menyebut penyakit seperti jantung dan stroke sebagai bagian dari risiko kesehatan yang berkaitan dengan rokok.
“Dampak yang dimunculkan itu mungkin lima sampai 10 tahun kemudian. Jadi akan memunculkan dampak terhadap kesehatan orang tersebut dan apabila ini menjadi penyakit bagi mereka, ini akan menurunkan produktivitas dan juga kualitas hidup,” ujarnya.
Dia juga menyoroti kebiasaan merokok pada usia 10 hingga 18 tahun yang masih berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Menurutnya, dampak kebiasaan tersebut dapat muncul ketika mereka memasuki usia produktif.
“Kalau seandainya ini dibiarkan terus merokok di masa muda, 10 tahun, 15 tahun ke depan, artinya nanti umur 25 sampai 30 mungkin akan terganggu oleh penyakit dampak dari merokok,” katanya.
Diskusi juga membahas persoalan rokok di luar aspek kesehatan, termasuk tata niaga, kondisi petani, strategi pemasaran dan dampaknya terhadap masyarakat yang tidak merokok.
Novita Sari Simamora dari AJI Jakarta mengatakan film tersebut dibuat untuk membongkar risiko kesehatan sekaligus menunjukkan strategi industri rokok dalam membangun persepsi publik. Ia menyoroti penggunaan warna, gambar buah-buahan, dan berbagai elemen visual pada kemasan rokok yang dinilai dapat mempengaruhi persepsi, terutama anak-anak dan perempuan.
“Tipu daya industri rokok melalui visual kemasan rokok dengan warna-warni dan buah-buahan menjadi berbahaya karena berdampak pada keinginan anak-anak maupun perempuan untuk merokok,” kata Novita di Batam
Dia berharap edukasi mengenai rokok dapat mencegah generasi muda menjadi korban strategi pemasaran industri. “Kami tidak ingin anak-anak muda menjadi korban ilusi pabrik rokok di Indonesia. Jangan sampai anak-anak kita, keluarga kita menjadi korban dari asap rokok,” ujarnya.
Dalam pemutaran film, John Billy, Pelaksana Senior di Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai (KPU BC) Tipe B Batam, mengatakan pihaknya menjalankan aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Dia menceritakan pengalaman saat tinggal di Singapura yakni adanya pengaturan nikotin dan kemasan.
“Instrumen cukai bertujuan untuk mengendalikan konsumsi rokok di masyarakat,” ungkap Billy.
Dia menyebut sejumlah aturan mengenai rokok, termasuk kawasan bebas merokok, sebenarnya telah tersedia. Namun, pengawasan dan penerapannya di lapangan masih menjadi perhatian.
Festival Media Selat Malaka 2026 digelar AJI Indonesia bersama AJI Batam dan AJI Tanjungpinang pada 19–21 September 2026 di Kepulauan Riau dengan tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara.”

