Tokyo,- Jumlah bayi yang lahir di Jepang pada 2024 kembali turun untuk tahun kesembilan berturut-turut, mencapai rekor terendah sejak pencatatan pada 1899. Sebanyak 720.998 bayi lahir tahun lalu, mengalami penurunan sebesar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dikutip dari ABC News, Jumat (28/2/2025).
Penurunan ini terjadi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah belum efektif dalam mengatasi populasi yang menua dan menyusut dengan cepat.
Kepala Sekretaris Kabinet Yoshimasa Hayashi mengakui bahwa penurunan angka kelahiran belum terkendali. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan memperluas program perawatan anak serta meningkatkan subsidi bagi keluarga yang membesarkan anak.
Selain itu, pemerintah juga akan mendorong kenaikan gaji serta program pencarian jodoh untuk meningkatkan angka pernikahan dan kelahiran. Diperkirakan jumlah bayi yang lahir dari warga negara Jepang akan turun di bawah 700.000 untuk pertama kalinya.
Penurunan ini terjadi 15 tahun lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Meski angka kelahiran di Jepang terus menurun, jumlah pernikahan meningkat sebesar 2,2 persen menjadi 499.999 pada 2024.
Para ahli menilai bahwa faktor ekonomi dan kesetaraan gender berperan besar dalam keputusan untuk menikah dan memiliki anak. Survei menunjukkan bahwa banyak generasi muda Jepang enggan menikah atau berkeluarga karena prospek pekerjaan yang tidak stabil.
Selain itu, biaya hidup yang terus meningkat lebih cepat dibanding kenaikan gaji juga menjadi faktor utama. Selain itu, budaya kerja Jepang yang tidak ramah terhadap orang tua yang bekerja juga menjadi salah satu penghambat utama.
Jika tren ini terus berlanjut, Jepang menghadapi tantangan besar dalam mengatasi penurunan populasi yang signifikan. Populasi Jepang diperkirakan akan menyusut sekitar 30 persen menjadi 87 juta jiwa pada 2070, empat dari sepuluh penduduk merupakan lansia.
Struktur demografi ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap ekonomi dan kesejahteraan sosial negara. Pemerintah terus berupaya meningkatkan insentif pasangan muda untuk menikah dan memiliki anak dengan menawarkan berbagai tunjangan dan fasilitas keluarga.
Namun, tantangan utama masih terletak pada perubahan budaya dan kondisi ekonomi yang tidak mendukung. Jika tidak ada strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan angka kelahiran, dampak penurunan populasi akan semakin sulit untuk ditangani.

