Jakarta,- Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai potensi kenaikan inflasi pada Oktober hingga Desember 2026. Peringatan ini didasarkan pada pola historis inflasi bulanan selama periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Direktur Statistik Harga BPS Sarpono mengatakan, data historis menunjukkan inflasi terjadi pada Oktober 2023 hingga 2025. Sebaliknya, Oktober 2022 tercatat mengalami deflasi.
“Kalau kita perhatikan secara grafik selalu terjadi inflasi pada bulan November dan Desember pada tahun 2022 sampai dengan tahun 2025,” kata Sarpono dalam paparannya di Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Senin 20 Oktober 2026.
Sarpono menjelaskan, pola historis juga menunjukkan inflasi November biasanya lebih tinggi dibandingkan Oktober. Sementara itu, inflasi Desember cenderung lebih tinggi dibandingkan November.
“Sehingga ini menjadi kewaspadaan kita bersama bahwa pada bulan Oktober, November dan Desember tahun 2026 ada kecenderungan kalau kita bicara secara historis untuk kenaikan inflasi secara bulanan,” ujarnya.
Berdasarkan paparan BPS, inflasi tahunan pada Oktober 2022 mencapai 5,51 persen, sedangkan pada Oktober 2023 sebesar 2,61 persen. Pada Oktober 2024, inflasi tahunan tercatat 1,57 persen, sementara Oktober 2025 mencapai 2,92 persen.
Adapun inflasi tahunan pada 2026 hingga periode yang ditampilkan dalam grafik mencapai 2,17 persen. Angka tersebut menjadi konteks pemantauan BPS menjelang tiga bulan terakhir tahun ini.
Meski demikian, pola historis tersebut bukan kepastian bahwa inflasi akan terus meningkat pada akhir 2026. Perkembangan inflasi tetap perlu dicermati berdasarkan data aktual setiap bulan.

