Jakarta,-Tingkat kemiskinan Indonesia turun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah penduduk miskin tercatat 22,93 juta orang, berkurang 920 ribu orang dibandingkan Maret 2025.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan melalui perlindungan sosial, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemerintah juga terus mengembangkan perlindungan sosial berbasis data terpadu untuk meningkatkan ketepatan sasaran bantuan.
Dalam siaran pers Bakom RI bertajuk “Dua Tahun Gerak Nyata: Transformasi yang Terukur, Manfaat yang Terasa”, Sabtu, 17 Oktober 2026, pemerintah mencatat tren penurunan kemiskinan dalam beberapa tahun terakhir.m“Tingkat kemiskinan berhasil turun dari 10,14 persen pada 2021 menjadi 8,47 persen pada 2025,” demikian keterangan Bakom RI.
Dalam periode yang sama, tingkat kemiskinan ekstrem turun dari 2,14 persen menjadi 0,85 persen. Sementara itu, tingkat ketimpangan yang diukur melalui rasio Gini membaik dari 0,384 menjadi 0,375.
Pemerintah juga menyempurnakan indikator pembangunan agar semakin mencerminkan kondisi kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Pada 2025, Indeks Modal Manusia digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur kemampuan dan kualitas daya saing sumber daya manusia Indonesia, dengan target 0,56.
“Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 turun menjadi 22,93 juta orang atau 8,07 persen. Berkurang 920 ribu orang dibandingkan Maret 2025,” demikian keterangan Bakom RI.
Pemerintah terus memperkuat perlindungan sosial berbasis data terpadu untuk meningkatkan ketepatan penyaluran bantuan. Upaya tersebut juga diarahkan untuk membantu keluarga keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.
Melalui perlindungan sosial, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemberdayaan ekonomi, pemerintah berupaya memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat. Penurunan kemiskinan dan ketimpangan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan secara lebih merata.

