Jakarta,-Dokter spesialis mata dr. Shafiq Advani menjelaskan, paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan dapat menyebabkan iritasi mata. Gas dan partikel asap dapat mengganggu lapisan air mata sehingga mata terasa kering, merah, perih, serta berair akibat paparan tersebut.
“Kalau terpapar oleh gas yang bisa membuat iritasi dan partikel-partikel lainnya, itu bisa membuat mata lebih cepat kering,” ujar Shafiq, 18 Oktober 2026. Shafiq menjelaskan, tingkat gangguan mata dipengaruhi durasi paparan, konsentrasi asap, serta riwayat penyakit mata yang dimiliki seseorang sebelumnya.
Semakin lama seseorang terpapar asap berkonsentrasi tinggi, semakin besar pula risiko mengalami iritasi dan gangguan penglihatan yang lebih serius. “Jadi memang intinya itu semakin lama, semakin buruk,” katanya.
Anak-anak dan lansia perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki kondisi yang membuat penanganan gangguan mata harus dilakukan secara lebih cermat. Anak-anak cenderung kesulitan menjelaskan keluhan secara tepat, sedangkan lansia dapat mengalami penurunan kualitas lapisan air mata seiring bertambahnya usia.
“Anak-anak ini mungkin bisa dibilang masih belum bisa mengutarakan apa yang dirasakan dan cenderung mengucek-ngucek matanya,” kata Shafiq. Untuk mengurangi risiko, Shafiq menyarankan masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan kacamata pelindung yang menutupi area mata secara menyeluruh.
Ia juga menganjurkan penggunaan air mata buatan untuk meredakan keluhan serta mengingatkan masyarakat agar tidak mengucek mata atau sembarangan menggunakan obat tetes. “Kalau sudah mulai ada gejala, itu sebaiknya kita tetes dengan air mata buatan,” ucapnya.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mengingatkan paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga berdampak pada mata. Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan partikel asap yang mengenai mata dapat menimbulkan iritasi.(dna/rri)

