Jakarta,- PT Kereta Api Indonesia (KAI) memangkas 10.000 ton emisi karbon selama dua bulan memakai bahan bakar B50. Penggunaan bahan bakar campuran minyak sawit tersebut resmi dimulai sejak hari Rabu, 1 Juli 2026 lalu.
Capaian pemangkasan gas buang tersebut dihasilkan melalui penerapan biosolar pada seluruh armada lokomotif penarik rangkaian kereta. Kajian teknis menunjukkan bahwa perjalanan satu rangkaian kereta api mampu menggantikan emisi ratusan unit kendaraan pribadi.
Vice President (VP) Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Anne Purba memaparkan efisiensi bahan bakar nabati. Satu perjalanan rangkaian kereta api bahkan setara dengan penghematan emisi gas buang 500 unit sepeda motor.
“Saya rasa yang penting di situ adalah bahwa selama 2 bulan, kita sudah bisa mengurangi 9.000 sampai 10.000 ton tadi, hanya dalam 2 bulan. Jadi dalam satu trainset itu, di dalam itu bisa 1.000 sampai 1.200 seat ya, dengan kilogram karbon per kilometernya itu hanya 45.900. Kalau misalkan mobil, itu dengan satu trainset itu seperti kalau dibandingin itu 160 private car. Karena dalam satu private car itu bisa menghasilkan 115.000 gram CO2,” ujar Anne saat memaparkan efisiensi energi di Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim Jakarta, Selasa, 15 September 2026.
Tingkat keluaran karbon armada rel terbukti jauh lebih rendah dibandingkan gabungan emisi ratusan unit mobil pribadi. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun turut menyoroti keunggulan karakteristik bahan bakar nabati B50.
“Dan kalau tadi dilihat dengan gambar B50 itu lebih bening, lebih jernih, itu menunjukkan bagaimana BBM ini terhadap lingkungan, itu satu. Yang kedua, bagaimana kemudian BBM ini tidak menyebabkan polusi. Nah, di satu sisi ini energi terbarukan, bisa ditanam itu kelapa sawitnya,” kata Roberth saat menerangkan kualitas bahan bakar di Wisma Tugu, kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Pemanfaatan minyak nabati sebagai energi terbarukan terus dibudidayakan secara berkelanjutan melalui sektor perkebunan kelapa sawit. Ketersediaan pasokan nabati yang terjamin menjadi fondasi kuat dalam melepaskan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta Franoto Wibowo memaparkan operasional sarana. Pengukuran dekarbonisasi sektor perkeretaapian dilakukan melalui penghitungan konsumsi bahan bakar serta fasilitas pendukung sarana lainnya.
“Kita ngitungnya itu per lokomotif sama per kereta api pembangkit,” ucap Franoto saat menjelaskan teknis pencatatan emisi di Stasiun Cikini, Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Penyaluran pasokan bahan bakar nabati menuju dipo perawatan kereta api dilakukan secara terjadwal setiap hari. Armada truk tangki Pertamina mendistribusikan minyak biosolar langsung menuju tangki penyimpanan utama kawasan Dipo Cipinang.
Pencantuman informasi jejak karbon pada tiket juga bertujuan mengedukasi seluruh masyarakat agar bersedia meninggalkan kendaraan pribadi. Penumpang dapat mengetahui secara transparan kontribusi perjalanan mereka dalam menekan emisi gas rumah kaca (GRK).
Penurunan puluhan ribu ton karbon membuktikan keunggulan kereta api sebagai transportasi massal rendah emisi nasional. KAI terus mengembangkan ekosistem transportasi ramah lingkungan guna menyongsong target operasional bebas emisi tahun 2060.

