Jakarta ,-Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan kabar meninggalnya balita bernama M Abdul Bais di Cianjur, Jawa Barat, akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak benar. “Tidak benar meninggalnya bayi usia dua tahun di Cianjur karena program MBG,” ujar Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, di Jakarta, Minggu 26 April 2026.
Menurutnya, makanan MBG diberikan oleh SPPG Sukasirna 02 Leles kepada penerima manfaat pada 14 April 2026 dan langsung dikonsumsi pada hari yang sama. Menu yang disajikan meliputi mi kecap, telur dadar, susu, dan buah.
Pada malam hari dan keesokan paginya, orang tua anak memberikan tambahan makanan berupa apel dan susu formula yang dibeli secara mandiri di luar program MBG. Gejala baru muncul dua hari kemudian, tepatnya pada 16 April 2026, saat anak mulai mengalami muntah-muntah.
Nanik menyebut dari total 2.174 penerima manfaat yang menerima MBG pada 14 April 2026, tidak ada satu pun yang mengalami gangguan pencernaan. “Hal ini menjadi indikator bahwa makanan yang disalurkan dalam kondisi aman dan layak konsumsi,” katanya.
Ia menambahkan, almarhum terakhir mengonsumsi MBG pada Selasa (14/4). Pada Rabu (15/4) anak tersebut tidak mengonsumsi MBG karena menolak makan.
Gejala kemudian muncul pada Kamis (16/4) sekitar pukul 06.00 WIB berupa muntah dan diare. BGN juga menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya balita tersebut.
“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ananda M Abdul Bais. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” ujar Nanik.
Secara terpisah, ayah almarhum, Sahjanudin (41), memastikan kematian anaknya tidak berkaitan dengan program MBG. “Saya orang tua dari Abdul Bais menyatakan kematian anak saya ini murni karena sakit, enggak ada hubungannya dengan dapur MBG SPPG Sukasirna 02 Leles,” katanya.
Meski demikian, BGN menegaskan akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi ketat terhadap pelaksanaan program MBG. Guna memastikan keamanan serta kualitas makanan bagi seluruh penerima manfaat.
Sebelumnya, beredar kabar Abdul Bais meninggal diduga karena keracunan MBG. Namun Kepala Dinas Kesehatan Cianjur, Made Setiawan, menegaskan hal tersebut belum dapat dipastikan karena hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan masih menunggu dan diperkirakan keluar pekan depan.

