Jakarta,-Dinas Dukcapil DKI mengungkapkan mayoritas pendatang baru yang masuk ke Jakarta memiliki latar belakang pendidikan menengah ke bawah. Berdasarkan data Dukcapil DKI, sebanyak 78,71 persen pendatang baru tercatat memiliki tingkat pendidikan maksimal SMA atau sederajat.
“Mereka lebih kepada keterampilannya yang sektor informal,” kata Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, Jumat, 3 April 2026. Ia menyebut, sekitar 34,97 persen pendatang baru ke Jakarta bertujuan mencari pekerjaan.
Denny mengatakan, arus kedatangan penduduk baru ke ibu kota didominasi usia produktif. “Kalau datang ke Jakarta itu pasti untuk mencari kerja,” kata Denny.
“Faktor-faktor untuk mencari pekerjaan itu dikuatkan dengan jumlah usia produktif yang paling tinggi,” katanya. Data Dukcapil menunjukkan alasan mencari kerja menempati posisi tertinggi dibandingkan alasan lain.
Berikutnya, adalah alasan keluarga (32,58 persen), pekerjaan (15,59 persen), perumahan (13,04 persen). Serta, pendidikan (3,49 persen), kesehatan (0,29 persen), dan keamanan (0,03 persen).
Dari sisi demografi, sebanyak 77,84 persen pendatang berada pada rentang usia produktif 15–64 tahun. Rasio jenis kelamin pun relatif seimbang, yakni setiap 100 perempuan terdapat 97 laki-laki.
Selain itu, kemudahan akses layanan publik menjadi faktor kuat yang membuat Jakarta tetap menjadi magnet bagi pendatang.
Layanan transportasi, kesehatan, pendidikan, hingga administrasi kependudukan dinilai mudah diakses. “Layanan publik kependudukan, layanan kesehatan, pendidikan yang cukup mudah diproses mungkin menjadi faktor utama mengapa Jakarta masih menarik,” ujarnya.
Namun, sekitar 21,05 persen pendatang diketahui tinggal di kawasan RW kumuh dan padat, termasuk wilayah perbatasan Jakarta. Data ini akan dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan program pembinaan UMKM serta upaya formalisasi sektor informal.

