Medan,-Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bencana hidrometeorologi berdampak pada tingkat inflasi di tiga daerah terdampak. Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat yang semula mencatatkan deflasi, pada Desember 2025 mengalami inflasi.
“Ketiga provinsi itu termasuk dalam kelompok provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini dalam keterangan pers perkembangan inflasi di gedung BPS, Jakarta, Senin (5/1/2026). Berdasarkan data BPS, inflasi di Aceh sebesar 3,6 persen, di Sumatra Utara sebesar 1,66 persen dan di Sumatra Barat 1,48 persen.
Sebelumnya, di bulan November, Aceh deflasi 0,667 persen, Sumatra Utara deflasi 0,42 persen dan Sumatra Barat deflasi 0,24 persen. “Penyebab inflasi di provinsi terdampak bencana adalah kenaikan harga komoditas, efek bencana banjir besar di bulan November,” ujar Pudji.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di ketiga wilayah tersebut. Di Aceh, komoditas pemicu inflasi terbesar adalah harga beras dengan andil inflasi 0,8 persen
“Di Sumatra Utara, komoditas pemicu inflasi terbesar adalah cabai rawit dengan andil inflasi 0,41 persen. Sedangkan di Sumatra Barat, komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah bawang merah dengan andil inflasi 0,22 persen,” kata Pudji.
BPS juga menyebut ketiga provinsi yang terdampak bencana itu berisiko lebih mengalami gagal panen. Hal tersebut diketahui dari hasil pengamatan survei Kerangka Sampel Area (KSA) pada November 2025.
“Berdasarkan hasil pengamatan survei KSA, potensi gagal panen di Aceh, Sumut dan Sumbar naik tajam menjadi 11,43 persen,” ucapnya. Selain itu, bencana banjir dan longsor juga membuat lahan tanam padi jadi menyempit.
Luas lahan yang sedang ditanami padi pada bulan November 2025 menyempit 34,63 persen dibandingkan bulan November 2024. “Kondisi ini akan berpengaruh pada luas lahan panen tiga bulan ke depan,” kata Pudji menutup keterangannya.

