Indonesia kini mencatat angka obesitas lebih tinggi dibanding beberapa negara ASEAN. Menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), sebanyak 21,6 juta penduduk Indonesia mengalami obesitas pada 2022.
Guru Besar Ilmu Pangan dan Gizi IPB, Ali Khomsah, menyebut fenomena ini sebagai peringatan serius bagi kesehatan masyarakat. Masalah obesitas di Indonesia, lanjutnya, tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari triple burden of malnutrition.
“Kita mengalami triple burden of malnutrition. Masalah kekurangan gizi belum dapat diatasi, tapi muncul juga masalah kelebihan gizi dan kekurangan gizi mikro,” katanya saat berbincang bersama Pro 3 RRI, Kamis (7/8/2025).
Fenomena kegemukan, kata Ali, juga berkaitan dengan stunting di masa lalu. Anak-anak yang tumbuh dengan tinggi badan tidak optimal cenderung mudah gemuk saat dewasa.
“Saat dewasa dan sejahtera, mereka bisa makan apa saja. Sehingga mereka cenderung mudah gemuk, karena tinggi badannya sudah tidak bisa naik lagi,” kata Ali.
Ia menilai, pola konsumsi masyarakat turut memicu obesitas. Di perkotaan, akses terhadap pangan tinggi kalori, lemak, gula, jauh lebih mudah.
“Makan asal kenyang dengan kalori berlebih menjadi kebiasaan masyarakat. Kesejahteraan tanpa disertai dengan kesadaran gizi bisa jadi bom waktu bagi kesehatan,” ucapnya.
Ali menekankan, pentingnya literasi gizi untuk mencegah obesitas. Menurutnya, pedoman gizi seimbang yang sudah dicanangkan pemerintah sejak 1996 belum tersosialisasi dengan baik.
“Masyarakat belum paham benar apa itu gizi seimbang. Mereka perlu mengantisipasi bukan hanya kekurangan gizi, tetapi juga gizi berlebih,” ujarnya.
Selain pola makan yang tidak sehat, Ali menyoroti minimnya aktifitas fisik masyarakat. “Kurang lebih sepertiga populasi di Indonesia kurang aktivitas fisik dan berdampak terhadap meningkatnya obesitas,” ujarnya.
Ia mencontohkan Jepang sebagai negara maju dengan tingkat obesitas rendah karena kebiasaan berjalan kaki sudah menjadi gaya hidup. Hal ini berbeda dengan negara Eropa dan Amerika Serikat yang tingkat obesitasnya lebih tinggi.
Ali menyarankan pemerintah daerah menyediakan sarana olahraga dan ruang publik untuk mendorong masyarakat lebih aktif bergerak. “Wali Kota atau Bupati juga dapat memberi contoh rajin berolahraga, sehingga akan ditiru masyarakatnya,” katanya.

