Jakarta,-Basarnas RI mendorong, percepatan proses salvage (pengangkatan) bangkai KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di Laut Jawa. Langkah tersebut, dinilai penting untuk membuka akses pencarian sekaligus mempermudah evakuasi korban yang diduga berada dalam badan kapal.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI, Mohammad Syafii mengatakan, proses salvage telah mulai dikoordinasikan dengan pemilik kapal dan pihak asuransi. Pihak asuransi, telah melakukan observasi untuk memastikan kesiapan pelaksanaan pengangkatan bangkai kapal tersebut.
“Karena kita tahu di dalam kapal masih ada korban. Kita meminta bahwa amanah undang-undang itu bisa dilaksanakan secepat-cepatnya,” kata Syafii dalam keterangan persnya seperti dilansir Antara, di Yogyakarta, dikutip Rabu, 30 September 2026.
Ia berharap, pengangkatan kapal dapat mempercepat proses pencarian dan evakuasi seluruh korban yang masih berada di dalam bangkai kapal. Syafii menjelaskan, pengangkatan, pemindahan, atau penenggelaman kapal yang berpotensi mengganggu alur pelayaran merupakan ranah Kementerian Perhubungan.
Karena itu, Basarnas mendorong, pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk segera mengambil langkah sesuai ketentuan yang berlaku. “Proses pengangkatan KM Virgo Transport 8, bukan pekerjaan sederhana karena kapal berada dalam posisi terbalik dan telah menyentuh dasar laut,” ucapnya.
Kapal tersebut, diketahui, memiliki panjang hampir 120 meter, lebar sekitar 21 meter, dan tinggi sekitar 18 meter. Sehingga, penanganannya membutuhkan perhitungan teknis serta peralatan khusus.
Basarnas juga membuka kemungkinan, melibatkan pihak atau negara lain yang memiliki kemampuan teknis untuk menangani proses pengapungan kapal. Tahapannya dapat mencakup pengapungan, pemasangan belt untuk membantu membalikkan kapal, kemudian menarik atau memindahkannya ke lokasi yang lebih aman.
Di tengah persiapan salvage, operasi pencarian korban tetap dilakukan dengan memanfaatkan kondisi cuaca dan pasang surut yang memungkinkan. Basarnas menegaskan, pencarian tidak dihentikan selama masih terdapat kemungkinan untuk menemukan dan mengevakuasi korban.
“Operasi SAR tidak akan pernah dihentikan. Selama masih memungkinkan untuk bisa menemukan korban dan mengevakuasi korban,” ujarnya.
Ia menyebut penghentian operasi baru dapat dipertimbangkan apabila seluruh korban telah ditemukan. Atau, kondisi lapangan benar-benar tidak memungkinkan untuk dilakukan pencarian dan evakuasi.
“Salah satu kendala terbesar berada di bawah permukaan laut karena arus di lokasi pencarian sempat mencapai lebih dari 6 knot. Bahkan sekitar 7 knot,” katanya.
Arus yang sangat kuat, disebutkannya, membuat penyelaman tidak dapat dilakukan secara bebas sepanjang waktu. Tim SAR kemudian menyesuaikan operasi dengan perubahan pasang surut.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan pencarian masih membuahkan hasil. Pada hari ke-17 operasi SAR, Selasa (29/9/2026), tim penyelam gabungan kembali menemukan dan mengevakuasi tiga jasad.
Dengan penemuan tersebut, jumlah korban yang telah ditemukan mencapai 182 orang, terdiri atas 108 orang selamat dan 74 orang meninggal dunia. Dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes, sebanyak 61 orang lainnya masih dalam pencarian.

