By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
DNABeritaDNABeritaDNABerita
  • HOME
  • MEDAN
  • HIBURAN
  • EKONOMI
  • KRIMINAL
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • ADVERTORIAL
  • OLAHRAGA
  • Ide Berita
  • Contact Us
Reading: Komunitas Peduli Seniman Sumut Kutuk Teror Kepala Babi dan Bangkai Tikus ke Jurnalis Tempo
Share
Sign In
Aa
DNABeritaDNABerita
Aa
Search
  • HOME
  • MEDAN
  • HIBURAN
  • EKONOMI
  • KRIMINAL
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • ADVERTORIAL
  • OLAHRAGA
  • Ide Berita
  • Contact Us
Have an existing account? Sign In
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
KRIMINAL

Komunitas Peduli Seniman Sumut Kutuk Teror Kepala Babi dan Bangkai Tikus ke Jurnalis Tempo

Editor
Editor Published March 24, 2025
Share
SHARE

Medan,- Sejumlah penulis, sastrawan dan seniman yang tergabung dalam Komunitas Peduli
Seniman Sumut (Kopisusu), mengecam keras teror kepala babi dan bangkai tikus ke kantor media Tempo yang dilakukan oleh orang tak dikenal beberapa hari lalu.

S. Satya Dharma, sekretaris Komunitas Peduli Seniman Sumut menyebut pengiriman kepala babi dan bangkai tikus itu bukan saja merupakan tindakan intimidasi terhadap kerja jurnalistik, tapi juga ancaman bagi kebebasan pers. Yang lebih menyedihkan, adalah reaksi jurubicara Istana Kepresiden yang menganggap “teror” kepala babi itu soal sepele.

“Ucapan Hasan Nasbi yang menyatakan kepala babi itu dimasak saja, menunjukkan dia bukan saja menganggap remeh dan tak peduli, tapi juga sudah mati hati nuraninya,” ujar S. Satya Dharma, yang juga pengasuh rubrik budaya Harian Waspada Medan.

Seperti diketahui, pada tanggal 19 Maret 2025, kantor media Tempo menerima paket berisi kepala babi tanpa telinga. Paket tersebut dikirim oleh kurir yang memakai atribut aplikasi pengiriman barang. Paket ditujukan untuk Francisca Christy Rosana, wartawan desk politik dan host siniar Bocor Alus Politik.

Tiga hari kemudian, pada Sabtu, 22 Maret 2025, pukul 08.00 WIB, ada lagi kiriman paket berisi enam bangkai tikus tanpa kepala. Agus, petugas kebersihan media Tempo, menduga kotak kardus yang dibungkus dengan kertas kado bermotif bunga mawar merah itu berisi mi instan. Tapi ketika dibuka, petugas kebersihan dan Satpam menemukan enam bangkai tikus dengan kepala terpenggal yang ditumpuk di dalam kotak. Tak ada tulisan apa pun di kotak kardus tersebut.

Pemeriksaan sementara oleh manajemen gedung, bungkusan berisi bangkai tikus itu dilempar orang tak dikenal pada pukul 02.11 WIB dari luar pagar kompleks kantor Tempo di Jalan Palmerah Barat, Jakarta Selatan.

Pemimpin Redaksi Tempo Setri Yasra mengatakan kiriman bangkai tikus makin memperjelas teror untuk redaksi Tempo. Sebab, sebelum bangkai tikus, redaksi Tempo menerima pesan ancaman melalui media sosial melalui akun Instagram @derrynoah pada 21 Maret 2025. Pengendali akun itu menyatakan akan terus mengirimkan teror “sampai mampus kantor kalian.”

Setri menyebut kiriman kepala babi dan tikus adalah teror terhadap kerja media dan kebebasan pers. “Pengirimnya dengan sengaja meneror kerja jurnalis,” katanya. “Tapi jika tujuannya untuk menakuti, kami tidak gentar tapi stop tindakan pengecut ini,” serunya.

Menanggapi teror terhadap media Tempo itu, Wirja Taufan, penyair yang menjadi Ketua Komunitas Peduli Seniman Sumut, menilai apa yang dialami Tempo menunjukkan bangsa Indonesia sedang mengalami kemunduran peradaban. “Di masa Orde Baru teror semacam ini juga terjadi. Tapi teror yang sekarang dialami Tempo lebih parah dan lebih sadis,” ujar Wirja Taufan.

“Mengirim penggalan kepala babi dan bangkai tikus tanpa kepala kepada seseorang, itu bentuk sadisme dan menunjukkan kualitas peradaban orang yang melakukannya,” tambah S. Satya Dharma.

Oleh karena itu, Komunitas Peduli Seniman Sumut yang beranggotakan para penulis, oenyair, sastrawan, wartawan dan seniman, meminta agar pihak kepolisian segera mengusut,

menyelidiki dan mengungkap siapa pelaku teror yang mengancam kebebasan pers ini. “Salah satu amanat reformasi 1998 adalah mengembalikan pers pada kebebasannya sebagai pilar keempat demokrasi. Ironisnya, meski sudah 27 tahun reformasi berlalu, kok malah kita balik jadi bangsa yang primitif. Ini apa-apaan…?” Seru S. Satya Dharma.

You Might Also Like

Pencuri Pakan Ternak Ayam 20 Sak Diringkus Polsek Tanjung Morawa

Resmi, Empat Prajurit TNI Jadi Tersangka Penyiraman Air Keras Aktivis HAM

Pelayanan Samsat Polresta DS Dioptimalkan, Humanis dan Bebas Pungli

Warga Tagih Kavling CSR di Sicanang, Berakte Notaris Tapi Lokasinya “Kajol”, FABB dan PT DIS Harus Bertanggung Jawab

Polresta DS Tes Urine Kepada Awak Maskapai Penerbangan Indonesia, Begini Hasilnya !!!

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.

By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Editor March 24, 2025 March 24, 2025
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
Previous Article Langgar Teknis, Dua Pembalap Ferrari Didiskualifikasi
Next Article PAC.PP Belawan Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest News

Pencuri Pakan Ternak Ayam 20 Sak Diringkus Polsek Tanjung Morawa
HOME KRIMINAL
Ibu Warga Miskin Ini Mohon Bantuan Dermawan Buat Biaya Berobat Anaknya
EKONOMI HOME Medan
Pariwisata Sumut Bergeliat, 360 Ribu Wisatawan Padati Destinasi Saat Lebaran
EKONOMI
Arus Petikemas BNCT Februari 2026 Tercatat 51.818 TEUs, Permintaan Awal Tahun Tetap Terjaga
EKONOMI HOME Medan
- Advertisement -
April 2026
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    
DNABeritaDNABerita
© 2023 DNA BERITA. All Rights Reserved.
  • About
  • Contact
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Cleantalk Pixel
Welcome Back!

Sign in to your account

Register Lost your password?