Mesopotamia, Wilayah Kuno yang Jadi Asal Sejarah

  • Post By editor, 29 Apr 2017 - 09:07:28 wib

Ide akan Mesopotamia telah memabukkan Barat selama berabad-abad. Alastair Sooke melihat peradaban yang menjadi sumber terbentuknya budaya modern.

"Semua orang sudah mendengar Taman Gantung Babilonia, Menara Babel, Nebukadnezar dan Banjir," kata Ariane Thomas, seorang kurator di bagian benda antik Timur Tengah di Louvre. "Jadi, Anda lihat sendiri, kita sudah sangat familiar dengan Mesopotamia, lebih dari apa yang disangka orang."

Kami sedang berdiri di depan pameran Sejarah Dimulai di Mesopotamia, sebuah pameran yang menampilkan hampir 500 objek di cabang Louvre di kota di utara Prancis, Lens.

Pameran ini mencakup 3.000 tahun sejarah Mesopotamia (sebuah kawasan yang luasnya kira-kira sama dengan Irak hari ini), dimulai dari penemuan tulisan di akhir abad 4 SM, dan berakhir pada 331 SM, dengan penaklukkan Iskandar yang Agung atas Babilonia.

Ada banyak artefak sejarah menarik selain juga karya seni, seperti patung pualam dari sekitar 2250 SM yang menampilkan seorang pejabat yang sedang duduk, mengenakan rok dengan motif rumit, dengan jenggot, kepala yang tercukur, dan mata berwarna biru memukau dari lapis lazuli.

Galeri pertama dalam pameran itu menandai "penemuan ulang" Mesopotamia pada abad 19, ketika para arkeolog mulai melakukan penggalian di Timur Tengah.

Mereka ingin menemukan bukti lebih jauh akan kekaisaran Assyria dan Babilonia di Mesopotamia, yang saat itu, lebih banyak diketahui lewat referensi dari Injil atau teks-teks klasik.

Tak hanya mereka menemukan lokasi ibu kota Assyria, Khorsabad, beberapa kilometer di timur laut Mosul di Irak utara, mereka juga menemukan peradaban Sumeria yang terlupakan, yang dulunya mendominasi bagian selatan kawasan tersebut.Ide akan Mesopotamia kemudian dengan cepat memabukkan Barat.

"Mesopotamia menjadi bahan imajinasi Eropa karena orang melihat kekuatan kekaisaran yang ditampilkan lewat pencitraan yang bisa mereka pahami," kata Paul Collins dari Museum Ashmolean Oxford, yang buku barunya, Mountains and Lowlands: Ancient Iran and Mesopotamia, diterbitkan November lalu.

"Dan tentu saja, Mesopotamia seperti mencerminkan dunia di Injil, maka ada kesan seperti dunia yang asing dan eksotis, tapi juga dengan karakteristik dasar yang familiar; kekaisaran, kota-kota, raja-raja."

Sebuah proyeksi video di galeri kedua di pameran di Lens menunjukkan bagaimana kegilaan akan Mesopotamia telah merasuk ke budaya kita.

Pada abad 20, Mesopotamia menjadi titik pencapaian bagi semua orang, mulai dari seniman dan arsitek (contohnya ada pada dekorasi Gedung Fred F French Building, sebuah pencakar langit gaya Art Deco di New York), sampai ke pengiklan dan pembuat film (contohnya ada pada setan Mesopotamia Pazuzu yang muncul pada film horor The Exorcist pada 1973).

Kini, Mesopotamia kembali muncul dalam budaya pop, berkat kesuksesan video games Civilisation dan kehadiran Pazuzu di jagat Marvel Comics.Dengan banyaknya referensi ini, maka menarik untuk bertanya apakah peradaban kuno di daerah yang luas ini, yang lokasinya sama dengan sebagian besar Irak tapi juga mencakup bagian dari Suriah dan Turki, membentuk dunia kita dengan cara yang penting.

Seperti kata Monty Python, apa yang telah dibuat orang-orang Mesopotamia untuk kita?.Jawabannya ternyata, banyak. Tapi sebelum sampai ke bagian intinya, penting untuk memahami apa yang kami maksud dengan Mesopotamia.

Istilah ini berawal dari orang Yunani Kuno, yang artinya "tanah di antara sungai-sungai". Mereka merujuk pada daerah alluvial yang datar antara sungai Eufrat dan Tigris, atau "tempat lahirnya peradaban", di mana manusia pertama meninggalkan gaya hidup berburu meramu dan mendirikan masyarakat yang menetap dan berbasis pada pertanian, sekitar 6000 SM.

Pada satu titik, di kawasan Sumer (yang kini menjadi Irak dan Kuwait), pengairan kemudian diciptakan sebagai cara untuk mengeksploitasi tanah yang subur di selatan Mesopotamia.

Untuk mengatur jaringan saluran irigasi dan kanal-kanal, sistem administratif kemudian dibuat, dan ini memicu berdirinya negara kota pertama, seperti Uruk, kemudian kerajaan-kerajaan, dan akhirnya, kekaisaran.

Yang menghubungkan berbagai fase dari sejarah panjang Mesopotamia adalah serangkaian kebiasaan, tradisi, mitos dan legenda, serta sistem kepercayaan — dengan kata lain, budaya yang unik dan maju.

Mengikuti perkembangan itu, pada sekitar 3200 SM, lewat Kuneiform — sistem penulisan yang mengambil namanya dari kata cuneus (ganjal) dalam bahasa Latin atau "huruf paku", yang ditekan oleh stylus ke tablet tanah liat lembek kemudian dijemur di bawah sinar matahari — bangsa Sumeria mengabadikan tradisi dan kepercayaan tersebut dalam teks tertulis. Banyak tablet resmi yang juga dicap dengan stempel silinder, salah satu temuan teknologi yang khas Mesopotamia.

"Ide akan Mesopotamia berasal dari kebiasaan penulisan," kata Collins."Dengan cara ini, kita bisa terhubung ke 3.000 tahun lalu lewat teks tertulis. Ada banyak pencatat dan birokrat yang mempertahankan tradisi ini, meski ada kekaisaran yang jatuh dan bangun, dan kehadiran orang-orang atau ide-ide baru. Mesopotamia itu seperti spons. Ketika ada orang baru hadir di daerah tersebut, mereka menyerap tradisi panjang Mesopotamia. Kita melihat ada banyak kontinuitas dari sisi sistem kepercayaan dan praktik administrasi."

Saking tuanya Mesopotamia, maka mereka menciptakan banyak hal untuk pertama kalinya.Arkeolog menyebut adanya penemuan teknis, seperti alat putar keramik, selain juga kemajuan luar biasa pada matematika, pengobatan dan astronomi.

Cara kita menghitung waktu, membagi setiap jam menjadi 60 menit, adalah sesuatu yang kita warisi dari Mesopotamia. Bahkan konsumsi bir pertama yang tercatat berasal dari Mesopotamia, di mana produk susu serta tenun juga dikembangkan.

Menurut Ariane Thomas, lokasi Mesopotamia adalah faktor penting dalam kesuksesannya, yang ditekankan oleh lahan pertanian yang luar biasa kaya.

"Mesopotamia berada tepat di pusat Timur Tengah," jelasnya. "Tanah keringnya sangat subur dengan irigasi, tapi kawasan itu juga harus terbuka ke luar, karena mereka tak memiliki sumber daya penting, seperti kayu atau hutan, bebatuan dan logam."

Ini artinya peradaban Mesopotamia selalu melihat ke luar dan dinamis.Dalam buku barunya, Paul Collins menelusuri interaksi antara Mesopotamia dan orang-orang di dataran tinggi Iran masa kini.

Pegunungan Zagros kaya akan tembaga, yang bisa digunakan untuk berbagai peralatan dan senjata, selain juga kaya akan timah, perak dan emas.

"Monumen-monumen penting Mesopotamia sering terbuat dari atau dihias dengan material yang datang dari Iran," kata Collins, merujuk pada ziggurat dari batu bata lumpur, yang tingginya beberapa ringkat, dan menjadi ciri khas kota-kota Mesopotamia (terutama Babylonia) dan menjadi inspirasi Menara Babel. (Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam telah melakukan kerusakan permanen pada banyak monumen serta situs Mesopotamia.)

Namun Collins percaya bahwa mencatat apa-apa saja temuan masyarakat Mesopotamia bisa menimbulkan pandangan yang salah akan sejarah.

"Orang-orang Sumeria diakui sebagai pencipta segalanya," katanya, mencemooh. Namun kini, katanya, arkeolog merasa lebih berharga untuk fokus melihat "kekuatan" yang membentuk Mesopotamia dari luar."Mesopotamia adalah tempat percampuran, dengan populasi penduduk yang bercampur," katanya.

"Orang berbicara dengan bahasa-bahasa yang berbeda dan diperkirakan memiliki tradisi budaya yang berbeda. Seringkali, orang menyederhanakan dengan mengatakan "orang Sumeria" atau "Assyria", saat sebenarnya kita membahas masyarakat yang jauh lebih kompleks."

Bagi Collins, sumbangan terpenting Mesopotamia pada dunia modern adalah kota, tempat di mana interaksi dinamis ini bisa terjadi."Dalam beberapa abad, kita melihat perkembangan dari pusat-pusat urban yang luar biasa, dengan ribuan orang hidup bersama," katanya.

"Apa yang mendorong mereka untuk datang bersamaan, kita belum tahu. Ada banyak faktor lain, seperti lingkungan, atau kebutuhan untuk mengelola sumber daya. Pada intinya kita bisa berbicara tentang individu penting yang menggugah atau mendorong orang untuk mendukungnya. Maka faktor-faktor yang sama yang kita lihat ada di politik modern bisa berada di balik generalisasi yang kita lihat ada di arkeologi."

Dia melanjutkan, "Tapi setelah kota-kota berdiri, ini tak berhenti. Mesopotamia menyediakan bukti terawal yang kita miliki akan banyak pertanyaan yang sampai sekarang masih kita cari jawabannya."

"Bagaimana Anda mengatasi masalah sejumlah besar orang tinggal di satu tempat secara bersama-sama? Bagaimana Anda menyediakan makanan buat mereka? Bagaimana Anda mengatasi kepadatan penduduk? Dan teknologi apa — seperti alat administratif penulisan dan stempel silindir — yang memungkinkan Anda memunculkan hierarki dan makna dalam masyarakat, sehingga ada rasa identitas kolektif? Dan karena itulah kota, seperti yang kita lihat sekarang, adalah warisan terbesar Mesopotamia."(dna/bbc)

 

You May Also Like